Adopsi GenAI di Indonesia Tumbuh Pesat, Tapi Perempuan Masih Minim Terlibat

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Jumat, 7 Maret 2025 | 08:05 WIB
Ilustrasi Wanita karir   (This_is_Engineering dari Pixabay)
Ilustrasi Wanita karir (This_is_Engineering dari Pixabay)

 

PejuangKantoran.com - Indonesia menunjukkan adopsi yang pesat terhadap teknologi Generative AI (GenAI), namun keterwakilan perempuan dalam sektor ini masih sangat terbatas. 

Meskipun Indonesia menduduki peringkat ke-23 dunia dalam pendaftaran GenAI di kalangan perempuan, data dari Coursera menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan dalam adopsi keterampilan GenAI.

Coursera, platform pembelajaran online terkemuka, baru-baru ini merilis buku panduan berjudul "Menutup Kesenjangan Gender dalam Keterampilan GenAI" yang berfokus pada strategi untuk memberdayakan perempuan agar dapat memanfaatkan potensi GenAI secara maksimal.

Baca Juga: THR Lebaran untuk ASN Cair 10 Hari Sebelum Hari Raya, Ini Tanggal dan Komponen Perhitungannya!

Di Indonesia, perempuan menyumbang 49% dari total pembelajar, namun hanya 30% yang mendaftar untuk kursus GenAI. Angka ini sejalan dengan tren global, di mana perempuan mewakili 32% dari total pendaftaran GenAI.

Namun, terdapat perkembangan yang menggembirakan. Pada tahun 2024, pendaftaran perempuan untuk kursus GenAI di Indonesia meningkat pesat, dengan angka pertumbuhannya mencapai 536%, jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan 383% yang tercatat pada pendaftaran laki-laki.

Meskipun demikian, untuk mempercepat keberagaman di sektor ini, diperlukan lebih banyak upaya untuk mendukung partisipasi perempuan dalam teknologi yang sangat transformatif ini.

Baca Juga: Pasca Kebanjiran Lakukan 8 Langkah Ini Terhadap Rumah Kamu Agar Higienis dan Aman.

Hambatan-Hambatan dalam Partisipasi Perempuan di GenAI

Buku panduan Coursera mengidentifikasi beberapa faktor utama yang menghambat partisipasi perempuan dalam bidang GenAI.

Salah satu hambatan terbesar adalah kurangnya kepercayaan diri, yang mempengaruhi ketekunan perempuan dalam mengikuti kursus-kursus di bidang ini. Banyak perempuan cenderung memilih kursus dengan tingkat pemula karena merasa lebih nyaman dengan materi yang lebih terstruktur dan mudah diakses.

Hal ini tercermin dalam tren di Indonesia, di mana kursus pengantar menjadi pilihan yang paling populer di kalangan perempuan.

Selain itu, kurangnya waktu dan panduan yang jelas juga menjadi faktor penghambat yang signifikan. Banyak perempuan mengungkapkan bahwa "kurangnya waktu" adalah alasan utama mereka tidak melanjutkan kursus STEM, karena mereka harus menyeimbangkan antara pekerjaan dan tanggung jawab pengasuhan anak.

Laporan dari Boston Consulting Group (BCG) menunjukkan bahwa hanya 51% perempuan di Indonesia yang terpapar teknologi sebelum masuk universitas, menyoroti pentingnya akses lebih awal ke pendidikan STEM untuk menjembatani kesenjangan gender ini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X