Contohnya, jika pernah menjadi relawan sebagai perancang web selama satu tahun sebelum bekerja penuh waktu, pengalaman tersebut dapat dianggap sebagai tambahan satu tahun pengalaman kerja.
Namun, jika pengalaman sukarela tidak langsung terkait atau lebih bersifat pelengkap, buatlah bagian terpisah. Misalnya, dengan membuat seksi “Volunteer Experience” setelah bagian pengalaman profesional.
Ini akan tetap menunjukkan tingkat keaktifan tanpa mengalihkan fokus dari informasi utama yang ingin disampaikan kepada rekruter.
Baca Juga: 15 Jenis Keterampilan Komunikasi yang Bisa Kamu Tulis di Resume atau CV
Soroti peran dan keterampilan
Saat menuliskan pengalaman kerja sukarela, jangan lupa tuliskan tanggung jawab, hasil yang dicapai, dan keterampilan yang dikembangkan.
Misalnya, bukan hanya mencantumkan “Relawan di acara A”, tetapi lebih spesifik seperti “Mengelola media sosial dan meningkatkan engagement sebesar 30% dalam tiga bulan.”
Fokuskan pada aspek-aspek yang dapat mendukung pengembangan karier, sedangkan untuk bagian yang kurang relevan cukup sertakan informasi utama seperti nama organisasi, posisi, lokasi, dan periode keterlibatan.
Lalu, gunakan kalimat aktif dan kuantifikasi hasil jika memungkinkan. Misalnya, “Berhasil mengorganisir acara dengan 200 peserta” atau “Mengumpulkan donasi sebesar Rp10 juta dalam satu bulan.”
Detail seperti ini bisa membuat kerja sukarela terasa setara dengan pengalaman kerja formal.
Pengalaman sukarela yang masih relevan dalam lima sampai sepuluh tahun terakhir sebaiknya diutamakan.
Namun, jika ada pengalaman lebih lama yang relevan dengan tujuan karier, tidak ada salahnya untuk dimasukkan.
Untuk pengalaman kerja sukarela dari berbagai latar belakang, termasuk organisasi keagamaan atau politik, juga bisa dicantumkan asalkan relevan dengan keterampilan yang ingin ditonjolkan. (Elga Windasari) ***