Pejuangkantoran.com – Pernahkah kamu mengalami atau melihat seseorang yang bekerja namun tidak sesuai dengan kapasitas, keterampilan, atau pengalamannya?
Misal, guru honorer dengan jam kerja penuh namun gaji di bawah UMR. Atau, sarjana hukum yang bekerja sebagai ojek online karena tidak ada lowongan yang ssuai dengan bidangnya.
Kasus-kasus demikian disebut sebagai underemployment. Underemployment adalah kondisi ketika seseorang bekerja namun pekerjaannya tidak sesuai dengan kapasitas, keterampilan, pengalaman, atau kebutuhan ekonominya.
Underemployment bukan pengangguran. Mereka punya pekerjaan, akan tetapi:
- Jam kerja kurang. Misalnya hanya bekerja paruh waktu saja, padahal ingin (dan mampu) bekerja penuh waktu. Menurut corporatefinanceinstitute.com ini disebut sebagai visible underemployment.
Mereka punya keterampilan untuk bekerja penuh waktu, namun tidak dapat menemukan pekerjaan tetap. Mereka bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup.
- Tidak sesuai keterampilan/pendidikan. Misalnya lulusan S1 teknik bekerja sebagai kasir minimarket karena tidak ada kesempatan kerja yang sesuai bidangnya.
Menurut corporatefinanceinstitute.com, ini disebut sebagai invisible underemployment. Mereka bekerja namun tidak memanfaatkan keterampilan mereka.
- Pendapatan tidak cukup. Gaji yang diperoleh jauh di bawah standar hidup layak, meskipun bekerja penuh waktu.
Singkatnya, underemployment itu bekerja, namun tidak optimal, baik dari sisi jam kerja, keahlian, atau pendapatan.
Baca Juga: Pemerintah Umumkan 17 Paket Stimulus Ekonomi, Lima Program Fokus Ciptakan Jutaan Lapangan Kerja
Penyebab Adanya Underemployment
Penyebab underemployment biasanya muncul dari kombinasi faktor ekonomi, sosial, dan kebijakan. Berikut yang utama:
- Lapangan Kerja Terbatas
Jumlah pekerjaan formal tidak sebanding dengan jumlah angkatan kerja. Banyak orang akhirnya masuk ke sektor informal atau pekerjaan serabutan.
- Kesenjangan Keterampilan (skills mismatch)
Lulusan pendidikan tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Contoh: banyak sarjana di bidang sosial, tapi lowongan yang banyak justru di bidang teknologi atau kejuruan.
- Pertumbuhan Ekonomi yang Tidak Merata
Daerah perkotaan mungkin punya banyak peluang, tapi di pedesaan pekerjaan terbatas. Akibatnya, orang menerima pekerjaan apapun meski tidak sesuai kemampuan.
- Pekerjaan Informal yang Dominan
Di negara berkembang (termasuk Indonesia), banyak pekerja berada di sektor informal dengan jam kerja fleksibel tapi tidak pasti (ojek online, pedagang kecil). Sering kali mereka ingin pekerjaan tetap dengan gaji layak, tapi sulit mendapatkannya.