kubikel

Minimalisme Karir ala Gen Z: Gaji Kecil tapi 'Sabetannya' Banyak, yang Penting Enggak Stres

Rabu, 24 September 2025 | 12:30 WIB
Ilustrasi: Karyawan Gen Z saat ini enggan mengejar jabatan tinggi, kalau akhirnya malah bikin stres. (Freepik/Lifestyle Memory)

PejuangKantoran.com - Bagi kita yang termasuk angkatan kerja baru, sukses bukan soal jabatan tinggi atau gaji fantastis, tetapi tentang hidup yang seimbang.

Filosofinya sederhana, yaitu kerja itu untuk membiayai hidup, bukan hidup untuk kerja terus. Inilah yang disebut oleh banyak orang sebagai “minimalisme karir.”

Bukannya kita malas atau ogah kerja, tetapi lebih ke strategi agar tidak terjebak dalam pola kerja, yang menurut orang tua kita -kepala jadi kaki, kaki jadi kepala. Ujung-ujungnya, stres.

Baca Juga: Rahasia Small Talk alias Obrolan Ringan Tidak Kehabisan Topik, Coba Trik FORD Ini!

Buat kita, buat apa kerja terlalu keras untuk naik tangga karir tapi ujung-ujungnya malah kelelahan.

Tak lagi kejar tangga karir

Data dari Glassdoor Community menunjukkan, 68% karyawan Gen Z tidak tertarik jadi manajer kalau cuma ditukar dengan jabatan keren tanpa gaji atau benefit yang sepadan.

Ini karena mereka melihat bagaimana generasi sebelumnya, terutama milenial, yang rela banting tulang demi karir, tetapi malah terjebak krisis ekonomi yang membuat stres tiada henti.
Untuk itu, responden memilih jalur yang lebih fleksibel.

Pernah dengan istilah “lily pad career”? Ini ibarat lompat dari satu daun ke daun lain. Jadi, karir yang mereka inginkan bukan lurus ke atas, tetapi fleksibel sesuai kebutuhan.

Terkadang mereka lebih suka pilih gaji lebih kecil demi waktu luang, kadang pindah industri yang lebih stabil, atau mengambil pekerjaan lebih kreatif meski tidak ada jabatan tinggi.

Pekerjaan sampingan bukan sekadar uang

Baca Juga: 9 Kesalahan Fatal yang Bikin Visa Pelajar Kamu Ditolak dan Cara Menghindarinya

Meski disebut “minimalis,” faktanya 57% karyawan muda ini punya kerja sampingan. Bukan cuma untuk mencari tambahan duit, tetapi sebagai tempat mereka menuangkan ambisi dan passion.

Hampir setengahnya mengatakan bahwa alasan utama mereka memiliki side job adalah agar bisa jadi bos untuk diri sendiri. Ada juga yang bilang tujuannya untuk menyalurkan hobi atau membuat karya yang disuka.

Jadi, kalau kerja kantoran 9-to-5 kurang memuaskan, mereka langsung membuat proyek sendiri setelah pukul 17.00 ke atas.

Bagi karyawan muda, work-life balance itu wajib hukumnya. Bahkan 32% dari mereka menilai keseimbangan hidup lebih penting daripada gaji besar.

Halaman:

Tags

Terkini