Menurut survei yang sama, generasi kita juga sangat menuntut fleksibilitas. Sebanyak 73% responden ingin sistem kerja fleksibel, baik remote, hybrid, atau jam kerja yang tidak kaku.
Nggak heran kalau 72% responden pernah terpikir untuk resign gara-gara aturan kantor yang terlalu kaku.
Sebaliknya, perusahaan yang memberikan fleksibilitas bisa menjaga karyawan muda tetap betah hingga 78% lebih lama.
Baca Juga: Kasta Gaji di Industri IT untuk Tingkat Asia Tenggara dan Global Berdasarkan Bidangnya
Jadi pemimpin dengan empati
Menariknya, generasi kita sebenarnya tidak alergi jadi pemimpin. Meskipun gaya kepemimpinan kita beda jauh dari zaman dulu.
Responden juga dilaporkan lebih mengedepankan empati, komunikasi terbuka, dan kesehatan mental tim. Ini membuat mereka tidak menjadi bos galak yang cuma tahu memberi perintah.
Sebagai pemimpin, mereka percaya feedback harus diberikan secara rutin, keputusan sebaiknya melibatkan tim, dan nilai perusahaan harus nyata, bukan sekadar slogan di website.
Jadi, Gen Z sebenarnya bukan anti kerja keras, tetapi mereka lebih pintar menata prioritas. Mereka nggak mau terjebak di kantor 12 jam sehari demi jabatan.
Sukses memang nggak selalu berarti punya cukup uang, tapi juga waktu untuk diri sendiri, dan kesempatan mengejar passion. Itu sebabnya mereka bilang seharusnya bekerja untuk hidup (yang lebih bermakna), bukan hidup hanya untuk kerja.