Pejuangkantoran.com – Ketika kamu berhasil menggolkan ide untuk dilaksanakan di kantor adalah menjadi sebuah prestasi tersendiri. Ini karena hal tersebut menjadi salah satu pembuktian kompetensi kamu.
Keberhasilan menggolkan ide ini tidak saja karena ide kamu yang otentik, orisinal, dan memberikan dampak positif bagi perusahaan, namun juga karena kamu berhasil meyakinkan orang lain untuk menyetujuinya.
Keberhasilan meyakinkan orang lain lain ini adalah keterampilan persuasif. Kamu meyakinkan melalui komunikasi yang efektif sehingga bisa memengaruhi cara fikir, sikap, serta tindakan orang lain.
Keterampilan persuasif tak hanya bermanfaat dalam mendapatkan dukungan orang lain, namun ia juga bisa dilakukan untuk bernegosiasi, meningkatkan leadership, memperkuat hubungan, mengurangi konflik di tempat kerja, atau mempercepat pengambilan keputusan.
Dan ujung-ujungnya ketika kamu berhasil dalam beberapa hal di atas dan konsisten, peluang untuk promosi terbuka lebar.
Lalu, bagaimana cara mengasah keterampilan persuasif? Berikut ini ada 7 poin penting untuk itu:
Baca Juga: 7 Alasan Mengapa Kamu Wajib Punya Keterampilan Persuasif yang Baik di Kantor
1. Memahami audiens secara mendalam
Persuasi yang efektif selalu dimulai dari memahami siapa lawan bicara kamu. Untuk itu, kamu wajib memahami apa kebutuhan dan masalah mereka, apa nilai atau kepercayaan yang mereka pegang, serta apa motivasi mereka dalam mengambil keputusan.
Tanpa memahami audiens, pesan persuasif sering tidak relevan.
2. Menguasai tiga unsur persuasi klasik
Ada tiga unsur persuasi klasik yang berasal dari Aristotle dan masih dipakai sampai sekarang, yaitu:
- Ethos (kredibilitas)
Orang lebih mudah percaya jika komunikator dianggap kompeten, jujur, dan berreputasi baik. - Logos (logika)
Supaya argumentasi kamu logis, gunakan data, contoh konkret, dan alasan yang rasional. - Pathos (emosi)
Agar pesan kamu bisa dirasakan lawan bicara atau audiens, maka sertakan cerita, empati, atau ilustrasi emosional. Persuasi yang kuat biasanya menggabungkan ketiganya
3. Melatih kemampuan bercerita (storytelling)
Sebuah cerita, misal pengalaman nyata, studi kasus, atau analogi sederhana, umumnya jauh lebih mudah diingat dibandingkan data.