kubikel

4 Fase yang Dibutuhkan Seorang Video Editor Entry Level Agar Bisa Mencapai Level Tertinggi Sebagai Creative Partner

Kamis, 2 April 2026 | 13:20 WIB
Lakukan fase-fase tertentu agar sebagai video editor, kamu bisa naik dari entry levekl menjadi creative partner. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Output fase 1: Mulai punya alasan di balik setiap cut.

Fase 2: Naik ke “Story Builder”

Fokus: mulai mengarahkan hasil, bukan sekadar mengikuti. Untuk itu kamu harus membangun skill di bidang story structure (problem, lalu tension, lalu solution, diakhiri dengan payoff), pacing dan retention, serta basic psychology audience untuk mengetahui kebutuhan dan yang diinginkan audiens.

Latihan konkret: Ambil 1 footage mentah, lalu buat 2 versi, yaitu:

  • Versi A: cepat dan punchy;
  • Versi B: lebih emosional.

Lalu bandingkan, mana lebih engaging dan mengapa?

Upgrade tools: Ini lanngkah opsional namun penting, mulai serius di Adobe Premiere Pro (workflow cepat) dan After Effects (untuk value tambahan ringan)

Output fase 2: Kamu mulai bisa menyampaikan hal ini ke klien: “Kalau dipotong di sini, retention-nya akan lebih bagus”

 Baca Juga: 9 Tanggung Jawab Seorang Editor Video. Pantasnya Dihargai Berapa Rupiah?

Fase 3: Masuk ke Wilayah Strategi

Fokus: mulai “ikut berpikir sebelum editing”. Untuk itu wajib membangun skill terkait content strategy dasar, platform thinking (YouTube vs TikTok vs Instagram) dan hook engineering.

Tugas wajib: Jalankan  real project, yaitu ketika mendapatkan project, maka jangan langsung edit. Kirim Mini Creative Input ke klien, seperti ini:

  • opening sebaiknya diubah jadi X;
  • bagian ini terlalu lama;
  • bisa ditambahkan hook seperti Y.

Mjngkin tidak selalu diterima klien, namun ini penting untuk positioning kamu, agar klien tahu kamu tidak sekadar editing namun sudah memikirkan strategi apa yang mendasari editing yang kamu lakukan.

Latihan penting: Re-edit video lama klien, potong 30% durasi, buat lebih cepat, dan perkuat opening.

Output fase 3: Klien mulai melihat kamu sebagai “orang yang mikir”

Fase 4: Positioning sebagai Creative Partner

Halaman:

Tags

Terkini