- Danya penurunan kualitas kerja.
- Deadline yang selalu terlewat.
- Sekadar cukup bekerja, yang penting sudah menjalankan tugas,
Indikator tersebut bukan selalu karenayang bersangkuatn tidak mampu, namun lebih pada kehilangan motivasi / engagement.
- Attendance & Discipline Signals
Salah satu indikator paling kuat karena didukung data, yatu:
- Sering terlambat.
- Absensi meningkat.
- Banyak “izin mendadak”.
- Psychological dan Emotional Signals
Indikator ini akan terlihat lebih halus, tapi jangan diabaikan karena sangat penting. Ini adalah fase seelum yang bersangkutan aktif mencari pekerjaan atau tempat kerja baru:
- Tidak antusias.
- Kurang percaya diri terhadap perusahaan.
- Merasa tidak punya masa depan.
- Communication Signals
Dalam berkomunikasi, ada sejumlah indicator yang menunjukkan gejala turnover, yaitu:
- Respon lambat.
- Komunikasi minimal.
- Tidak lagi proaktif.
Baca Juga: Waspada, Turnover Karyawan Bisa Diprediksi dari Tanda-tanda Awal Seperti Ini
- Engagement Data Signals (HR Analytics)
Sebenarnya ada sejumlah data HR yang bisa dijadikan “pegangan” untuk mendeteksi. Sumber datanya dari:
- Survey engagement.
- Feedback.
- Performance review.
- HRIS (Human Resources Information System).
- Career dan Growth Signals
Ada sejumlah indikator yang bisa menunjukkan bahwa yang bersangkutan sudah tidak engage lagi dengan perusahaan, yaitu:
- Tidak ikut training.
- Tidak tertarik promosi.
- Tidak melihat masa depan.
- Job Search Behavior
Ini adalah sinyal-sinyal akhir menuju turnover. Biasanya yang bersangkutan mulai terlihat aktif mencari tempat kerja baru. Indikasinya:
- Update profil LinkedIn.
- Sering izin untuk “keperluan pribadi”.
- Networking aktif.
Jika perusahaan dalam hal ini manajemen mampu membaca sinyal sinyal melalui indikator-indikator di atas, turnover bisa diprediksi (dan dicegah). ***