Maka fokus leader adalah memberikan dukungan dan mengembangkan skill anggota timnya agar tujuan bersama bisa tercapai. Jadi, nggak melulu soal hasil akhir.
Sebaliknya, seorang bos cenderung terpaku bagaimana agar tim menyelesaikan tugas. Fokus utamanya adalah pencapaian target dan angka-angka. Akibatnya saat mengejar target tersebut, kondisi mental atau kesejahteraan tim terabaikan.
Baca Juga: Nekad! Sidharta Tata Pilih Lokasi di Gang Sempit untuk Adegan Fighting di Film 'Ikatan Darah'
Memang tugas itu penting, tapi tanpa orang-orang yang bersemangat, hasil kerja jarang bisa maksimal dalam jangka panjang.
2. Contoh nyata dan otoritas jabatan
Seorang pemimpin memandu timnya lewat visi dan contoh nyata. Mereka tidak perlu sering-sering mengingatkan orang lain tentang jabatan mereka untuk mendapatkan kepatuhan.
Rasa hormat dan loyalitas yang didapatkan seorang pemimpin biasanya tumbuh secara organik karena mereka punya integritas dan nilai-nilai yang jelas. Tim mengikuti mereka karena mereka memang mau, bukan karena wajib.
Di lain pihak, bos biasanya sangat bergantung pada otoritas jabatan. Mereka menggunakan kekuasaan hierarki untuk mengambil keputusan dan memastikan keputusan itu dijalankan. Pendekatannya sering kali berupa instruksi secara langsung.
Gaya ini mungkin efektif dalam jangka pendek untuk situasi darurat, tapi jarang bisa membangun loyalitas tim yang kuat.
3. Komunikasi dua arah atau satu arah?
Perbedaan bos dan leader lainnya adalah dalam hal komunikasi. Misalnya, pemimpin lebih suka mendengarkan. Mereka menciptakan ruang yang terbuka bagi siapa saja untuk memberikan masukan atau kritik.
Pemimpin sejati akan mendengarkan dengan aktif dan tidak ragu untuk menyesuaikan strategi mereka berdasarkan masukan dari tim. Komunikasi ini sifatnya dua arah, di mana ada dialog di sana.
Sementara itu, cara berkomunikasi bos cenderung satu arah. Instruksi datang dari atas ke bawah tanpa ada pertukaran ide yang nyata. Suara tim jarang didengar atau dianggap kurang penting dibanding instruksi dari pusat.
Dampaknya, anggota tim jadi sering merasa seperti cuma pelaksana tanpa ada rasa kepemilikan terhadap pekerjaan tersebut.