Rela Kerja sampai Weekend Itu Bukan Tanda Ambisius, Ingat Juga Dampaknya buat Fisik dan Mental!

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 2 Mei 2026 | 13:35 WIB
Ilustrasi: Orang yang rela bekerja saat weekend bukan tanda bahwa ia ambisius atau berdedikasi, lho! (Freepik)
Ilustrasi: Orang yang rela bekerja saat weekend bukan tanda bahwa ia ambisius atau berdedikasi, lho! (Freepik)

PejuangKantoran.com - Sebuah survei oleh perusahaan rental mobil Enterprise Rent-A-Car baru saja menyurvei 1.000 orang Amerika berusia 25 tahun ke atas. Hasilnya, 67% dari mereka biasanya tetap bekerja saat weekend, terutama untuk membaca dan membalas email kantor.

Buat warga di sana, bekerja hari Sabtu dan Minggu ternyata sudah dianggap normal. Buktinya, 63% responden merasa atasan mereka memang mengharapkan mereka untuk tetap bekerja, dan 61% mengaku nggak bisa berhenti memikirkan urusan kantor saat weekend.

Kita sering menyebut orang seperti itu ambi atau punya dedikasi yang tinggi. Padahal, kerja keras yang kita lakukan terkadang bukan untuk meraih sesuatu, melainkan untuk lari dari masalah yang kita hadapi. 

Baca Juga: Isetan, Department Store Jepang di Singapura, Tutup Gerainya setelah Beroperasi Selama 15 Tahun

Budaya kerja kita itu suka salah kaprah menilai orang seperti ini. Kantor ngasih pujian, penghargaan, bahkan jabatan tinggi karena kita rela bekerja dengan jam kerja yang panjang.

Padahal, dari sisi psikologi, ada perbedaan besar antara dorongan untuk berprestasi dan upaya penghindaran diri.

Sepintas keduanya sama saja, sama-sama menghasilkan uang dan produktivitas. Tapi perbedaannya bakal kerasa saat pekerjaan itu berhenti. Maksudnya gimana?

Begini, kalau kamu benar-benar ambi, biasanya kamu tetap bisa menikmati hari libur tanpa merasa terbebani. Sebaliknya, kalau kamu menggunakan pekerjaan untuk meredam emosi, kamu akan gelisah ketika suasana jadi sunyi.

Tanpa jadwal yang padat, kamu jadi memikirkan lagi masalah pribadi atau hal-hal lain yang tadinya berusaha kamu redam. Kenapa bisa begitu?

Ketika kamu menghadapi masalah yang bikin kamu cemas, entah itu sedih karena baru putus sama pacar, gagal diterima bekerja, atau muak dengan segala situasi politik sekarang ini, bagian otak yang namanya amygdala akan aktif dan mengirimkan sinyal bahaya.

Baca Juga: Sori Bangeeet... Gen Z Nggak Percaya Sama Kemampuan Karyawan Senior di Tempat Kerja

Di sini, kamu menganggap bekerja jadi cara paling mudah untuk mematikan sinyal itu. Saat fokus pada tugas-tugas kantor, kamu jadi melupakan hal-hal di luar itu. Sinyal bahaya tadi meredup karena otakmu terlalu sibuk memikirkan deadline.

Efek kerja sampai weekend

Nah, yang lebih bahaya lagi, banyak karyawan yang mengira bahwa lembur di akhir pekan itu merupakan tanda kekuatan, dan bagus untuk karier mereka. Padahal, banyak riset justru membuktikan hal sebaliknya.

Beberapa studi menunjukkan bahwa kebiasaan bekerja saat weekend sering dikaitkan dengan masalah tidur, depresi, penyakit jantung, hingga risiko diabetes tipe 2 bagi pekerja dengan penghasilan rendah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: usnews.com, Siliconcanals.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X