Pejuangkantoran.com – Social capital atau modal sosial adalah modal dalam sebuah hubungan kerja profesional. Meskipun bukan dalam bentuk uang, namun modal ini tak tergantikan.
Social capital gampangnya adalah ketika kamu punya banyak kenalan serta networks/jaringan , dan kamu bisa memanfaatkannya secara positif untuk mendukung produktivitas kerjamu. Dengan kata lain, pergaulanmu sebagai “social butterfly” itu bisa mendukung performa kerjamu.
Keberhasilan dalam social kapital tidak terlepas dari unsur-unsur utamanya. Salah satunya adalah masalah trust atau kepercayaan. Ketika hubunganmu dengan rekan kerja, partner, klien, bahkan vendor didasari rasa saling percaya, maka hubungan itu adalah hubungan yang sehat dan bisa menjadi modal sosial kamu.
Membangun trust pada dasarnya adalah membangun persepsi bahwa seseorang itu kompeten, konsisten, jujur, dan tidak membahayakan kepentingan orang lain.
Trust di lingkungan kerja biasanya tidak dibangun lewat kata-kata besar, tetapi lewat pola perilaku kecil yang berulang. Ada sejumlah pilar utama dalam membangun trust di kantor, yaitu:
- Konsisten antara ucapan dan tindakan
Ini adalah fondasi paling penting. Jika kamu mengatakan:
- “Saya kirim sore ini” maka harus benar-benar dikirim sore itu juga.
- “Saya hadir jam 9” maka kamu harus hadir tepat waktu.
- “Saya bantu follow up” maku kamu wajib mem-follow up.
Orang lebih percaya pada track record kecil yang konsisten daripada janji besar yang sesekali ditepati. Intinya, jangan “omdo” alias “omong doang”. Janji adalah utang!
Baca Juga: Bukan Modal Uang, Namun Social Capital Sangat Berharga dan Tak Tergantikan di Kantor!
- Deliver hasil kerja yang dapat diandalkan
Trust atau kepercayaan profesional sangat terkait dengan reliabilitas atau seberapa jauh kamu dapat diandalkan. Orang akan percaya jika pekerjaanmu rapi, deadline terjaga, minim drama, dan tidak membuat orang lain harus “mengamankan ulang” pekerjaanmu.
Dalam organisasi, pegawai yang dipercaya biasanya bukan yang paling vokal, tetapi yang paling stabil, paling bisa diprediksi kualitas kerjanya, dan paling sedikit menciptakan risiko.
- Transparan ketika ada masalah
Kesalahan itu bukan akhir dari trust dan malah justru bisa meningkatkan trust jika ditangani dengan benar, yaitu transparan ketika ada kesalahan.
Contoh:
- “Ada kendala di data bagian A.”
- “Saya salah interpretasi instruksi kemarin.”
Orang cenderung lebih percaya kepada rekan yang cepat mengakui masalah, memberi solusi, dan tidak melempar tanggung jawab.
Sebaliknya, trust cepat turun jika kamu berusaha menutup-nutupi kesalahan, lalu mencari kambing hitam, atau baru bicara saat masalah sudah besar.