3 Kebiasaan 'Buruk' Ini Ternyata Menandakan Kecerdasan Emosional yang Tinggi, Overthinking Misalnya

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 21 Maret 2026 | 19:30 WIB
Ilustrasi: Overthinking sering dianggap kebiasaan buruk, padahal ini menunjukkan kamu punya kecerdasan emosional yang tinggi. (Freepik/Kamran Aydinov)
Ilustrasi: Overthinking sering dianggap kebiasaan buruk, padahal ini menunjukkan kamu punya kecerdasan emosional yang tinggi. (Freepik/Kamran Aydinov)

PejuangKantoran.com - Siapa di sini yang suka overthinking? Kalau kamu sering dibilang seperti itu, jangan langsung down. Menurut penelitian psikologi terbaru, nggak semua orang yang kebanyakan mikir itu payah.

Di dunia pengembangan diri, overthinking memang sering dianggap musuh nomor satu. Kita selalu disuruh untuk nggak kebanyakan mikir, lebih percaya pada insting, dan jangan terlalu memusingkan detail kecil.  

Faktanya, ada beberapa kebiasaan yang dari luar terlihat seperti overthinking, padahal sebenarnya itu tanda bahwa kamu punya kecerdasan emosional (EQ) yang tinggi.

Baca Juga: Pemeran Xander Harris di Serial 'Buffy the Vampire Slayer', Nicholas Brendon, Meninggal Dunia

Kecerdasan emosional sendiri adalah kemampuan kita untuk memahami dan merespons emosi diri sendiri maupun orang lain secara efektif.

Selain overthinking alias OVT, ada beberapa kebiasaan buruk yang sebenarnya menunjukkan bahwa kamu punya EQ yang jempolan:

1. Mengingat-ingat apa yang diucapkan pada orang lain

Mungkin kamu termasuk yang kalau pulang kerja sering terpikir, "Tadi aku salah ngomong nggak ya?" atau "Maksud nada bicaranya tadi apa ya?" Meskipun kelihatannya membuang waktu, riset dari jurnal Personality and Individual Differences menyebutkan bahwa ini adalah bentuk emotional appraisal.

Orang dengan EQ tinggi cenderung menganalisis kembali isyarat emosional seperti nada suara dan ekspresi wajah untuk memahami perspektif orang lain. Bedanya dengan melamun biasa, mereka melakukannya untuk belajar.

Nah, di sini kamu perlu membedakan antara refleksi sehat dan ruminasi negatif. Refleksi melibatkan proses belajar dari interaksi, dan, yang terpenting, menyesuaikan perilaku ke depannya berdasarkan apa yang dipelajari.

Baca Juga: Sosok Joe Kent, Pejabat Antiterorisme AS yang Resign dan Kritik Perang Iran

2. Kebanyakan mikir sebelum bertindak

Overthinking mungkin bisa dibilang kebalikan dari impulsif. Orang yang sering OVT mungkin sering dianggap tidak tegas atau terlalu ragu-ragu karena butuh waktu lama untuk membalas pesan atau mengambil keputusan yang melibatkan orang banyak. Padahal, ini bentuk empati yang tinggi.

Menurut riset tahun 2015 di Early Child Development and Care, kemampuan mengambil sudut pandang orang lain (perspective taking) sangat penting untuk mengurangi konflik.

Itu bukan tanda kalau kamu bingung, melainkan sedang menghitung konsekuensi emosional dari tindakan kamu biar nggak menyakiti orang lain. Ini bentuk kebaikan yang sebenarnya sangat langka di masa sekarang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Forbes

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X