- Menjaga integritas komunikasi
Jaga mulutmu dan jangan “ember”. Hindari gosip berlebihan, membocorkan percakapan internal, memainkan dua muka, atau “asal bapak senang”.
Di kantor, reputasi sering terbentuk dari pertanyaan dalam hati: “Apakah orang ini aman untuk dipercaya?” Sekali dikenal suka “ember”, membawa cerita ke sana-sini, trust biasanya turun drastis.
- Pahami kepentingan dan tekanan orang lain
Berempati dengan memahami kepentingan dan tekanan orang lain itu bisa meningkatkan trust.
Contoh:
- memahami tekanan atasan terhadap target,
- memahami beban administrasi rekan kerja,
- memahami kebutuhan tim lain.
Ini terkait dengan social capital, yaitu hubungan kerja yang sehat dibangun dari empati operasional, bukan sekadar keramahan.
Baca Juga: Cara Instan Bangun Kepercayaan Atau Trust di Tempat Kerja, Mulai dari 7 Kebiasaan Sederhana Ini!
- Jangan hanya muncul saat butuh bantuan
Hubungan kerja yang kuat bersifat resiprokal atau imbal balik, saling berbalas. Artinya, kamu membantu rekan kerja karena memang benar-benar ingin membantu bukan karena “ada udang di balik batu”.
Orang lebih percaya kepada rekan yang:
- sesekali membantu tanpa motif langsung,
- berbagi informasi yang berguna,
- memberi kredit kepada tim,
- tidak hanya muncul saat ada kepentingan.
- Stabil secara emosional
Coba bayangkan jika punya rekan kerja yang sering bad mood dan “tukang drama”. Lingkungan kerja menghargai orang yang tidak mudah meledak, tidak reaktif, tidak memperbesar konflik kecil.
Emosi yang stabil memberi rasa aman psikologis bagi tim dan pihak lain. Banyak orang kompeten gagal dipercaya karena terlalu defensif, mudah tersinggung, atau sulit diajak diskusi saat ada tekanan.
Nah, sudahkah kamu memenuhi unsur-unsur di atas?***