PejuangKantoran.com - Menjadi manajer atau pemimpin perusahaan ternyata bukan lagi impian utama bagi banyak pekerja muda. Survei terbaru Deloitte menunjukkan bahwa Gen Z kini lebih memilih karier yang berkelanjutan dengan keseimbangan hidup yang baik dibanding mengejar promosi secepat mungkin.
Dalam laporan Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2026, hanya 6% Gen Z yang menyebut posisi kepemimpinan sebagai tujuan karier utama mereka. Sebaliknya, mayoritas lebih memilih berkembang secara bertahap atau bahkan berpindah peran untuk memperoleh pengalaman yang lebih relevan.
Salah satu alasan terbesar adalah persepsi bahwa jabatan manajerial datang dengan konsekuensi yang tidak sebanding. Sekitar 50% Gen Z mengaku khawatir terhadap stres dan burnout yang menyertai posisi kepemimpinan. Persentase yang sama juga menilai tanggung jawab yang terlalu besar menjadi penghalang untuk mengejar jabatan tersebut. Selain itu, 41% responden mengaku khawatir posisi manajer akan mengganggu keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Baca Juga: Diadaptasi dari Buku Best Seller, Film'Filosofi Teras' Soroti Perjuangan Sandwich Generation
Temuan ini menunjukkan perubahan cara pandang generasi muda terhadap kesuksesan karier. Dibanding mengejar promosi secepat mungkin, 44% Gen Z lebih memilih pertumbuhan karier secara bertahap, sementara hanya 25% yang menginginkan kenaikan jabatan secara cepat. Sebagian lainnya bahkan bersedia mengambil posisi lateral atau mundur satu langkah apabila dianggap lebih sesuai dengan tujuan jangka panjang mereka.
Meski demikian, Deloitte menilai hal tersebut bukan berarti Gen Z menolak menjadi pemimpin. Sebanyak 76% responden mengatakan mereka tetap tertarik menduduki posisi senior di masa depan. Hanya saja, mereka ingin mencapainya ketika merasa sudah memiliki pengalaman yang cukup dan organisasi mampu menawarkan lingkungan kerja yang lebih sehat serta berkelanjutan.
Tren ini juga sejalan dengan kondisi para manajer saat ini. Survei Gartner terhadap hampir 3.000 karyawan dan manajer menemukan 47% manajer merasa tuntutan pekerjaan mereka meningkat dibandingkan setahun sebelumnya, sehingga mereka harus bekerja lebih keras untuk memenuhi ekspektasi perusahaan.
Baca Juga: TikTok Konfirmasi PHK Karyawan di Indonesia, Sebut Sedang Restrukturisasi Organisasi R&D
Menurut Deloitte, perubahan cara pandang tersebut menjadi sinyal bahwa perusahaan perlu meninjau kembali bagaimana mereka membangun jalur kepemimpinan. Generasi muda kini tidak hanya mempertimbangkan kenaikan jabatan dan gaji, tetapi juga beban kerja, kesehatan mental, serta fleksibilitas sebelum memutuskan menerima peran sebagai pemimpin.
Catatan: Angka 33% Gen Z melihat manajernya mengalami stres berkepanjangan dan 27% menilai manajer tidak memiliki kewenangan yang cukup yang kamu kirim kemungkinan berasal dari survei lain (bukan Deloitte). Kalau ingin menggunakan angka tersebut, aku bisa bantu melacak sumber aslinya supaya artikelnya tetap akurat dan bisa dipertanggungjawabkan.