Pejuangkantoran.com – Paling sebal jika menghadapi rekan kerja yang salah namun dia defensif. Dia tidak mau mengakui kesalahan yang dilakukannya dan terkadang malah menjadi meyalahkan pihak lain.
Ini adalah sikap yang disebut dengan defensiveness. Ini adalah sikap atau respons seseorang yang muncul ketika ia merasa diserang, dikritik, disalahkan, atau terancam.
Ketika ia merasa seperti itu, maka ia berusaha melindungi diri. Caranya, sering kali dengan menyangkal, membela diri secara berlebihan, atau mengalihkan kesalahan.
Misal, ketika si A ditegur dengan kalimat: “Aku sedih lho, kamu sering terlambat!”, bukannya megoreksi diri namun justru A menjawab dengan defensif: “Halah, kamu kan juga pernah terkambat, kan. Kenapa cuma aku yang disalahkan?”
Ada sejumlah tanda yang menunjukkan seseorang akan bersikap defensif, yaitu:
- Langsung menyangkal kritik tanpa mendengarkan.
- Memberi banyak alasan atau pembenaran.
- Menyalahkan orang lain (balik menyerang).
- Menganggap masukan sebagai serangan pribadi.
- Sulit mengakui kesalahan atau meminta maaf.
kritikBaca Juga: Cara Ngasih Kritik Pedas tanpa Menyakiti Anak Buah, Biar Kamu Nggak Dianggap Bos yang Toxic
Penyebabanya
Sebenarnya bersikap defensif itu rekasi yang normal dalam situasi tertentu. Banyak orang melakukannya ketika merasa harga diri, identitas, atau niat baiknya dipertanyakan.
Namun, ketika sikap ini terjadi terus-menerus, defensiveness dapat menghambat komunikasi dan penyelesaian konflik. Dan jika ini terjadi di tempat kerja/kantor, bisa mengganggu produktivitas.
Penyebab defensiveness biasanya bukan sekadar karena seseorang “keras kepala”. Secara psikologis, defensiveness muncul ketika seseorang merasa ada ancaman terhadap dirinya, meskipun ancamannya sebenarnya hanya berupa kritik atau perbedaan pendapat.
Beberapa penyebab utama defensiveness:
Baca Juga: Psychological Safety ala Google yang Sangat Bermanfaat Bagi Organisasi Perusahaan
- Harga diri yang rapuh
Seseorang yang terlalu mengaitkan kesalahan dengan nilai dirinya bisa berpikir: “Kalau saya salah, berarti saya tidak kompeten.” Akibatnya, kritik terhadap pekerjaan terasa seperti serangan terhadap dirinya.
- Pengalaman sering dikritik atau dipermalukan
Orang yang sejak kecil atau dalam lingkungan kerja sering disalahkan, dibandingkan, atau dipermalukan dapat belajar bahwa kritik adalah ancaman. Respons otomatisnya adalah membela diri.