Burnout Bukan Penyebab Utama Turunnya Produktivitas, Justru Presenteeism yang Sering Tak Disadari

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Rabu, 22 Juli 2026 | 09:10 WIB
"Wabah" burnout tak boleh didiamkan. Pemimpin harus mempunya strategi untuk mengatasinya. (Freepik)
"Wabah" burnout tak boleh didiamkan. Pemimpin harus mempunya strategi untuk mengatasinya. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Ketika membahas produktivitas karyawan, perusahaan umumnya lebih fokus pada tingkat absensi. Padahal, ancaman yang lebih besar justru datang dari fenomena yang sering tidak terlihat, yakni presenteeism.

Presenteeism adalah kondisi ketika karyawan tetap masuk kerja meski kondisi fisik atau mentalnya sedang tidak optimal. Mereka hadir di kantor, mengikuti rapat, bahkan menyelesaikan tugas, tetapi kemampuan bekerja jauh menurun dibanding kondisi normal.

Fenomena ini menjadi salah satu temuan penting dalam riset global British Standards Institution (BSI) bersama Centre for Economics and Business Research (CEBR). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa rendahnya kepercayaan karyawan untuk menyampaikan masalah kesehatan kepada perusahaan berkontribusi terhadap meningkatnya presenteeism, yang pada akhirnya mengurangi produktivitas organisasi.

Baca Juga: Fenomena Gaya Hidup Sehat Masyarakat Indonesia, Kenapa Gen Z dan Milenial Jaman Now Suka Banget Olahraga?

Menurut BSI, banyak pekerja memilih tetap bekerja saat mengalami kelelahan mental atau gangguan kesehatan karena khawatir dianggap tidak profesional atau dinilai kurang berkomitmen. Akibatnya, masalah kesehatan justru berlangsung lebih lama dan berdampak pada kualitas pekerjaan.

Selain presenteeism, riset tersebut juga mengidentifikasi dua dampak lain dari rendahnya dukungan perusahaan terhadap kesehatan karyawan, yaitu meningkatnya absensi berkepanjangan serta tingginya angka turnover.

Managing Director BSI Indonesia, Nolia Natalia, mengatakan perusahaan perlu melihat produktivitas secara lebih menyeluruh. Menurutnya, rendahnya angka absensi belum tentu mencerminkan kondisi tenaga kerja yang sehat.

"Produktivitas yang hilang sering kali tersembunyi dalam aktivitas sehari-hari karena karyawan tetap hadir bekerja, tetapi tidak berada dalam kondisi terbaiknya," ujarnya.

Baca Juga: Orang Indonesia di Balik Megahnya Upacara Pembukaan dan Penutupan Piala Dunia 2026

Fenomena ini juga relevan dengan kondisi Indonesia. Data Jobstreet by SEEK menunjukkan 82 persen pekerja Indonesia merasa bahagia di tempat kerja, tetapi 43 persen mengaku mengalami burnout.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pekerja tetap dapat hadir dan menjalankan aktivitasnya, namun belum tentu bekerja dalam kondisi fisik maupun mental yang optimal.

Karena itu, BSI mendorong perusahaan membangun budaya kerja yang terbuka sehingga karyawan merasa aman meminta dukungan ketika mengalami tantangan kesehatan. Menurut lembaga tersebut, langkah sederhana seperti fleksibilitas kerja, penyesuaian beban kerja, hingga komunikasi yang lebih terbuka dapat membantu menjaga produktivitas sekaligus kesehatan tenaga kerja.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X