Ketika perusahaan mulai mengurangi jam kerja dan memberikan dua hari libur, pertanyaan besarnya adalah apakah pekerja tetap dapat produktif jika bekerja lebih sedikit.
Kini pertanyaannya berkembang menjadi:
Apakah manusia benar-benar perlu bekerja lima hari untuk menghasilkan pekerjaan yang sama?
Teknologi, otomatisasi, kecerdasan buatan, dan sistem kerja hybrid membuat pertanyaan tersebut semakin relevan.
Jika pekerjaan dapat diselesaikan lebih cepat, mungkin ukuran produktivitas tidak lagi seharusnya sekadar berdasarkan berapa lama seseorang duduk di depan komputer.
Karena pada akhirnya, sejarah dunia kerja menunjukkan satu hal: cara manusia bekerja tidak pernah benar-benar berhenti berubah.