Lakukan dengan tetap tenang, pendek, dan faktual.
- Kalau sudah menjadi pola, dokumentasikan
Ini sangat penting terutama jika kamu seorang atasan/manajer. Hindari hanya melabeli dengan sebutan “orangnya defensif”.
Wajib kamu catat perilaku konkretnya, mulai dari tanggal feedback, masalah yang dibahas, respons orang tersebut, apakah tanggung jawab dialihkan, tindakan perbaikan yang disepakati, dan apakah masalah berulang.
Dengan demikian, masalah berubah dari penilaian karakter menjadi masalah perilaku dan kinerja yang dapat diamati.
Baca Juga: CEO Ralph Lauren Bilang: Kalau Mau Feedback Lebih Ngena, Kadang Caranya Harus Blak-blakan
- Bedakan orang defensif dengan orang yang memang sedang diperlakukan tidak adil
Ini sangat penting. Jangan otomatis menganggap bahwa orang yang defensif pasti dia yang salah.
Kadang-kadang seseorang memang defensif karena feedback-nya tidak adil, tidak jelas, atau disampaikan dengan buruk.
Hindari langsung men-judge: “Kamu selalu membuat masalah.” Kalimat ini sangat mudah memicu defensiveness.
Gunakan kalimat yang lebih jelas dalam penilaian: “Dalam tiga proyek terakhir, dua mengalami keterlambatan pada tahap X. Saya ingin memahami penyebabnya dan mencari cara agar tidak terulang.”
Ini jauh lebih mudah diproses.
Oleh karena itu, sebelum menyimpulkan seseorang “terlalu defensif”, periksa juga kualitas feedback yang kita berikan. Ini untuk memastikan bahwa feedback menghasilkan pembelajaran atau justru defensiveness. ***