“Saya paham keterlambatan data dari X memang menjadi faktor. Sekarang saya ingin kita pisahkan dua hal: apa yang berada di luar kendali Anda dan apa yang masih menjadi tanggung jawab Anda.”
- Kembalikan pembicaraan ke masalah utama
Ini salah satu teknik paling penting. Orang defensif sering membawa percakapan ke siapa yang salah.
Arahkan lagi untuk lebih fokus pada apa yang harus dilakukan. Ketika muncul defensiveness berupa mengalihkan tanggung jawab diri kepada orang lain, keadaan atau faktor lain, menyelahkan orang lain, atau justifikasi terus-menerus, arahkan kembali percakapan kepada isu utama dan peran orang tersebut.
- Berikan ruang untuk menjelaskan
Meskipun kita tidak boleh membiarkan defensiveness mengambil alih percakapan, namun jangan juga langsung memotong pembelaannya.
Berikan peluang kepada si defensif untuk menjelaskan perspektifnya agar bisa pahami. Setelah dia selesai menyampaikan perspektifnya, tanyakan bagian mana yang menjadi tanggung jawabnya.
Dengan cara ini, kamu tidak memaksa orang untuk mengakui kesalahan terlebih dahulu. Kamu mengarahkannya menuju ownership, memahami permasalahan yang ada dalam wewenangnya..
Pendekatan curiosity seperti ini juga dianjurkan dalam pengelolaan staf yang defensif: tanyakan apa yang terjadi ketika mereka menerima feedback dan apakah ada sesuatu dalam cara feedback diberikan yang membuatnya sulit diterima.
Baca Juga: 7 Strategi Jitu Memberikan Usulan Kepada Atasan Defensif Agar Setuju
- Pisahkan intention dari impact
Memisahkan intention dari impact itu sangat berguna di kantor. Orang defensif sering berkata: “Saya kan tidak bermaksud begitu.”
Jangan terjebak berdebat tentang niat. Respon dengan kalimat: “Saya percaya Anda tidak bermaksud demikian. Yang sedang kita bicarakan adalah dampaknya. Saya mengatakan bahwa keputusan tersebut menyebabkan pekerjaan tim mundur dua hari.”
Dengan demikian, dia tidak harus menerima tuduhan bahwa dirinya “orang buruk” untuk bisa menerima bahwa perilakunya mempunyai dampak yang perlu diperbaiki.
- Jangan ikut menjadi defensif
Ini jebakan terbesar saat menghadapi orang defensif.
Ketika dia mengatakan: “Kenapa cuma saya yang ditegur? Yang lain juga melakukan hal yang sama!”, lalu merepson: “Jangan balik menyalahkan saya!”
Ini namanya defensiveness melawan defensiveness. Dan percakapan berubah menjadi pertarungan ego.
Lebih efektif jika kamu sampaikan: “Kalau ada masalah dengan anggota tim lain, kita akan bahas juga. Sekarang kita sedang membahas bagian Anda.”
Artikel Terkait
Contoh Bahasa Defensif yang Perlu Dihindari Saat Menghadapi Pelanggan atau Klien yang Marah
Beban Kerja Meningkat, Pemimpin Tak Punya Waktu Menanggapi Feedback dari Karyawan. Ini Dampaknya!
5 Bentuk Feedback yang Paling Merusak Mental Karyawan, Kredibilitas Si Bos Bisa Dipertanyakan!
Bukan Karena Mens Rea, Ini Alasan Mengapa Orang Memberikan Feedback yang Merusak Mental