kubikel

Ketika AI Bisa Memanipulasi Biaya dan Mempengaruhi Keputusan di Divisi Keuangan, Siapa Bertanggung Jawab?

Kamis, 27 Agustus 2026 | 22:38 WIB
Ilustrasi: Perusahaan makin sering mengandalkan AI untuk memengaruhi keputusan, namun belum ada yang bertanggung jawab saat keputusan itu salah. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Ironisnya, penggunaan AI juga muncul dalam manajemen SDM. Sebanyak 86% perusahaan menggunakan AI untuk evaluasi kinerja karyawan, dan 55% menjadikannya syarat rekrutmen.

Tapi, cuma 27% karyawan yang benar-benar menerima pelatihan AI secara terstruktur. Tentunya ini nggak adil buat karyawan yang belum dapat kesempatan belajar.

Selain itu, meski AI dijanjikan untuk meredakan beban kerja, 75% staf keuangan justru merasa penggunaan AI meningkatkan rasa lelah dan burnout. Soalnya, mereka harus belajar dengan cepat, dengan ekspektasi yang terus berubah, tapi output-nya dituntut untuk terus meningkat.

Baca Juga: Gempa Susulan Masih Terjadi di Flores, Kapan Pekerja Dinyatakan Aman Kembali Bekerja? 

Keterlambatan pembayaran masih terjadi

Prinsip yang sama juga diberlakukan untuk sistem otomatisasi keuangan yang lebih mapan. Tapi meski 85% tim keuangan sudah mengadopsi otomatisasi Accounts Payable (AP), masalah klasik tetap terjadi:

  • 45% perusahaan masih sering terlambat membayar 21% hingga 40% faktur tiap bulannya.
  • 96% responden menyebut masalah keterlambatan ini menjadi pemicu stres utama tim AP.

Dampaknya:

  • 45% pemasok menerapkan syarat bayar di awal,
  • 43% memutuskan hubungan kerja sama,
  • 42% berlanjut ke jalur hukum.

Fakta-fakta tersebut menunjukkan, investasi teknologi saja tidak cukup. Kunci utamanya bukan sekadar membeli sistem otomatisasi, tetapi memastikan investasi tersebut benar-benar memberikan hasil operasional yang nyata dan terukur.

Halaman:

Tags

Terkini