Justru yang tidak normal—dan berpotensi bermasalah—adalah tidak mau melakukan aktivitas sendiri, yang bisa naik ke tingkat menjadi sebuah fobia.
Hal lain yang juga sebenarnya tidak normal adalah merekam seseorang tanpa izin di tempat umum dan memviralkannya.
Viral di media sosial bisa menimbulkan rasa tertekan di dunia nyata
Seperti yang dikatakan Ellie dalam tulisannya, "Mengagumi sesuatu yang pada dasarnya bukan apa-apa membuat hal-hal paling konyol tiba-tiba terasa sangat penting dilakukan."
Baca Juga: 76 Anggota Paskibraka Siap Bertugas di Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi 17 Agustus 2023
Semua itu bisa membuat orang merasa hidupnya membosankan jika dibandingkan dengan apa yang dilihat di media sosial.
Misalnya, kamu yang sering olahraga pagi, tetapi tidak bergaya seperti orang-orang di media sosial, bisa dibuat merasa bahwa olahraga yang kamu lakukan “tidak berguna”.
Tak heran jika banyak penelitian mengatakan bahwa media sosial merusak kesehatan mental penggunanya.
Sama seperti orang-orang di dunia maya yang menyebut segala sesuatu sebagai “respons trauma”, hal ini pun dapat mengurangi implikasi trauma yang sangat nyata.
Video tersebut membuat segala hal disebut sebagai momen peduli pada diri sendiri atau cinta pada diri sendiri.
Salah satunya adalah menonton film ke bioskop sendirian. Itu bukan termasuk cara untuk peduli pada diri sendiri—kecuali kalau itu memang salah satu caramu melepas stres—dan bentuk cinta pada diri sendiri.
Baca Juga: 16 Agustus Pengumuman Hasil Tes Bakat Skolastik, Siap-siap untuk Seleksi Substansi LPDP!
Itu hanya hal normal yang bisa dilakukan semua orang, termasuk perempuan tua yang ada dalam video viral di TikTok.
Jadi, jangan sampai hal normal lain, seperti belanja ke supermarket sendiri atau ke mana pun sendirian, disebut sebagai peduli pada diri sendiri atau bentuk mencintai diri sendiri. Itu hanya tugas biasa, tidak lebih.
Daripada menyebutnya sebagai “kepedulian diri”, sebut saja apa yang dilakukan nenek yang menonton film “Barbie” sendirian itu sebagai sebuah “keberanian”. Sebab, tidak semua orang seusianya mau melakukannya. Setuju? (Elga Windasari)