PejuangKantoran.com - Masih sulit menerima bahwa atasan juga bisa mengalami burnout? Coba kamu bayangkan. Manajer itu mendefinisikan perusahaan besar. Mereka mendorong komunikasi dan budaya perusahaan, keterlibatan karyawan, moral, produktivitas, dan kesuksesan masa depan tim mereka. Sebagai tulang punggung perusahaan, manajer bertanggung jawab untuk memotivasi semua orang menuju kesuksesan bersama.
Manajer memikul tanggung jawab yang luar biasa, mulai dari pertumbuhan dan revenue perusahaan hingga tujuan dan dinamika tim, komunikasi, serta inisiatif. Tekanan yang terus-menerus membuat atasan berisiko tinggi mengalami burnout, yang bisa lebih berbahaya daripada burnout yang dialami karyawan.
Baca Juga: Berapa UMP 2023? Ini Jawaban Menaker
Apa yang menyebabkan burnout pada atasan? Banyak faktor, termasuk lingkungan yang terlalu kompetitif, tekanan yang meningkat, ekspektasi yang tidak realistis, dan kehidupan pribadi yang penuh tekanan. Hal ini menyebabkan penumpukan stres emosional, mental, dan fisik.
Manajer punya tanggung jawab berbeda dari karyawan dalam kontribusi perorangan. Tidak mudah menyeimbangkan tuntutan kepemimpinan dengan dukungan tim. Penyebab burnout lainnya termasuk beban kerja yang berat, jam kerja yang panjang, miskomunikasi, stres, ketidakpastian, kurangnya pengakuan, dan ulasan kinerja yang tidak membantu dari atasan mereka.
Prioritas yang saling bertentangan, ketidakmampuan untuk mencapai kesuksesan yang diharapkan, dan frustrasi yang berulang, menyebabkan emosi jadi pendek atau penyakit fisik yang membatasi kemampuan manajer untuk melakukan pekerjaan. Jika tidak terselesaikan, tanda-tanda kelelahan kepemimpinan dapat menyebar ke seluruh organisasi dan menyebabkan kelelahan karyawan.
Baca Juga: Daftar Kompensasi Untuk Pejuang Kantoran Terkena PHK
Dalam lingkungan yang terus berubah dan bergolak, si bos bisa mengalami burnout lebih dari sebelumnya. Penelitian Energage, perusahaan survei karyawan yang berbasis di Philadelphia, menunjukkan:
38% orang sering merasa kewalahan saat bekerja.
64% eksekutif percaya kesejahteraan adalah tantangan yang signifikan.
60% karyawan percaya inisiatif kesejahteraan tidak efektif.
Mengenali tanda-tanda burnout adalah langkah pertama dalam mengidentifikasi masalah dan menemukan solusinya. Berikut adalah beberapa gejala umum dari burnout para manajer:
• Melampiaskan kemarahan terhadap karyawan, teman, atau keluarga.
• Menarik diri dari kolega, tim, atau acara perusahaan.
• Menolak berbagi perasaan dan kekhawatiran mereka.
• Meningkatnya ketidakhadiran atau penundaan.
• Kehilangan motivasi pengembangan dan pertumbuhan profesional.
• Menunjukkan tanda-tanda kelelahan emosional dan penurunan efisiensi.
Baca Juga: Kena PHK? Ini Cara Klaim dan Cek Saldo BPJS Ketenagakerjaan
Untungnya, ada solusi efektif untuk mengurangi dan mencegah kelelahan manajer. Langkah pertama adalah koneksi. Sama seperti yang diharapkan akan dilakukan manajer dengan karyawan, pemimpin harus mendorong keterbukaan dengan manajer mereka. Mengetahui apa yang paling penting memungkinkan para pemimpin menemukan cara untuk meminimalkan kelelahan manajer.
Meningkatkan kesejahteraan karyawan dan manajer berarti membantu mereka menemukan keseimbangan dalam kehidupan pribadi dan profesional. Menerapkan program baru seperti istirahat tambahan, tunjangan anak, jam kerja fleksibel, atau pendelegasian ulang proyek, akan mencegah kejenuhan dan memastikan karyawan memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada pekerjaan mereka.