kubikel

Betulkah Bekerja dari Rumah Membuat Atasan Cenderung Menjadi “Helicopter Boss”?

Kamis, 29 Desember 2022 | 08:00 WIB
Ilustrasi: Gaya kepemimpinan micromanagement menimbulkan kecenderungan "helicopter boss". (Freepik/Kate Mangostar)

PejuangKantoran.comMicromanagement bukanlah hal baru. Gaya kepemimpinan ini muncul ketika atasan melakukan pengawasan yang berlebihan pada karyawan, membuat karyawan merasa tidak bisa berkembang.

Nah, munculnya sistem kerja jarak jauh mengembangkan kepemimpinan micromanagement ini menjadi "helicopter boss". Atasan mengerahkan lebih banyak kendali atas karyawan karena karyawan tidak terlihat.

Sebuah studi dari Harvard Review (2020) menemukan bahwa seperlima pekerja jarak jauh merasa supervisor mereka terus-menerus mengevaluasi pekerjaan mereka. Sepertiga responden juga mengatakan bahwa manajer mereka kurang percaya pada keterampilan kerja bawahannya.

Helicopter boss bisa meningkatkan kecemasan di tempat kerja, dan membuat karyawan sulit mencapai potensi terbaiknya.

Apa itu helicopter boss?

Istilah helicopter boss mengacu pada konsep “helicopter parenting”, di mana orangtua terlibat dalam setiap aspek kehidupan anak mereka, dan tidak memberi mereka ruang untuk membuat keputusan sendiri.

Orangtua mengendalikan setiap detail dan keputusan yang mempengaruhi anak, dari kehidupan akademik dan sosial mereka, hingga kegiatan ekstrakurikuler.

Ketika anak-anak diasuh dengan cara ini, mereka jadi seperti "belajar untuk tidak berdaya". Sebab, mereka tunduk pada keinginan orangtua untuk merasa dicintai dan merasa aman.

"Nah, istilah helicopter boss digunakan untuk menggambarkan tipe manajer yang terlalu terlibat dalam pekerjaan bawahannya," jelas Desirée Silverstone, Direktur Head Honchos.

"Mereka sering disebut sebagai micromanagers, karena mereka sangat memperhatikan setiap detail dan mengambil pendekatan langsung untuk mengawasi beban kerja karyawan mereka. Helicopter boss biasanya akan membuat semua keputusan untuk karyawan mereka.”

Mengapa micromanagement berbahaya di tempat kerja?

Masalah dengan micromanagement adalah karena pola ini menghilangkan kemampuan karyawan untuk belajar dari kesalahan dan keputusan mereka.

"Manajemen mikro tidak memenuhi peran pemimpin yang baik karena tidak mendorong timnya untuk mengambil inisiatif dan mengembangkan peran mereka," jelas Silverstone.

"Pemimpin yang baik bisa menjadi mentor dan pelatih, seseorang yang menawarkan bimbingan dan dukungan sambil membiarkan tim berkembang melalui motivasi dan eksplorasi diri," lanjutnya.

Akar dari micromanagement menurut Silverstone adalah perfeksionisme. Ada kemungkinan manajer juga mengalami kesulitan mendelegasikan tugas karena perfeksionisme mereka sendiri.

Halaman:

Tags

Terkini