Pengarang J.K. Rowling, Mark Twain, dan Roald Dahl semuanya terbiasa bekerja di ruang kerja kreatif yang penuh dengan catatan dan tumpukan kekacauan.
Meja penulis yang ingar-bingar dan tersebar mungkin menjadi metodologi yang efektif untuk pemecahan masalah secara kreatif. Dalam pengertian ini, kekacauan menjadi manifestasi fisik dari keinginan untuk tidak tergantung pada pola.
Suka begadang
Ilmuwan evolusi Satoshi Kanazawa dalam studinya yang dimuat di jurnal Personality and Individual Differences (2009) menyebutkan, ada hubungan antara IQ masa kanak-kanak dan kebiasaan tidur di antara ribuan remaja.
Remaja dengan IQ lebih tinggi mengatakan, mereka begadang dan bangun lebih siang pada hari kerja dan akhir pekan. Orang yang tidur larut malam cenderung mengembangkan solusi yang kreatif dan orisinal ketimbang orang yang terbiasa bangun pagi.
Tidak selalu berusaha keras
Bukan berarti orang malas itu tandanya pintar, tetapi orang pintar tidak selalu harus berusaha sekeras "pejuang" yang berjuang untuk meningkatkan keterampilan mereka —setidaknya di bidang tertentu.
Hasil studi Universitas Vanderbilt tentang anak muda yang sangat cerdas menyimpulkan, meskipun berusaha menjadi lebih pintar itu patut dipuji, ada kemampuan bawaan tertentu yang tidak selalu bisa dipelajari.
Ikut kursus musik
Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa musik membantu pikiran anak-anak berkembang.
Dalam sebuah studi tahun 2018 yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Neuroscience, anak-anak yang diberi pelajaran musik terstruktur tampil lebih baik daripada teman sebayanya dalam tes kecerdasan verbal, perencanaan, dan penghambatan.
Sedangkan studi yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Science (2011) menemukan, kecerdasan verbal anak usia 4 hingga 6 tahun meningkat setelah kurang dari sebulan belajar musik.
Lucu
Dalam sebuah studi tahun 2011 yang diterbitkan dalam jurnal Intelligence, 400 mahasiswa psikologi mengikuti tes kecerdasan yang mengukur kemampuan penalaran abstrak dan kecerdasan verbal.
Kemudian mereka diminta membuat teks untuk beberapa kartun warga New York, dan teks tersebut ditinjau oleh penilai independen. Seperti yang diperkirakan, siswa yang lebih pintar dinilai lebih lucu.