PejuangKantoran.com - Jika tempat kerja kamu harus melalui proses yang bertele-tele untuk menyelesaikan sesuatu, atau segala sesuatu diukur dari seberapa besar keuntungan yang bisa diambil, hati-hati, itu bisa menjadi ciri-ciri tempat kerja yang toxic.
Ada saatnya kita semua perlu mengevaluasi lingkungan dan orang-orang yang bekerja dengan kita untuk menentukan apakah mereka merugikan jalur karier kita, bahkan mungkin kesehatan dan kesejahteraan kita. Begitu ciri-ciri tempat kerja yang toxic ini terasa, setiap orang harus saling menjaga agar efeknya tidak merusak mental anggota tim.
Sekarang mari kita temukan lima ciri tempat kerja yang toxic, dan menjadi red flag yang harus diwaspadai:
Baca Juga: 5 Red Flag yang Menunjukkan Perilaku Bos yang Toxic (Kenali Sebelum Kamu Terjebak)
1. Sering menyalahkan karyawan
Manajemen berfokus pada kesalahan karyawan, dan jarang memberikan umpan balik positif jika yang dilakukan sudah melampaui target. Atasan yang sering menolak tanggungjawab atas perannya dalam suatu kesalahan, atau tidak menghargai kontribusi, akan merusak moral tim. Karyawan tahu dia juga bagian dari masalah tetapi tidak bertanggung jawab. Seringkali hal ini memicu sejumlah karyawan untuk mengajukan pengunduran diri sebagai reaksi atas perilaku toxic sang manajer.
2. Birokrasi
Di tempat kerja yang toxic, kadang-kadang ada terlalu banyak birokrasi untuk menyelesaikan sesuatu. Kamu akan melihat terlalu banyak komite, kelompok kerja, dan dewan, serta banyak lapisan manajemen dan langkah-langkah yang diperlukan untuk membuat keputusan akhir. Lingkungan ini membuat karyawan kehilangan motivasi. Birokrasi seperti ini dengan jelas menyampaikan kepada mereka, "Kami tidak mempercayai Anda."
Baca Juga: Lingkungan Kerja Toxic: 1 dari 3 Karyawan di Asia Tenggara Burnout
3. Yang penting cuan
Dalam tempat kerja yang toxic, kamu akan merasakan bahwa fokusnya semata-mata pada keuntungan, menghancurkan kompetitor, dan memotong biaya. Tidak ada lagi budaya membangun hubungan atau bekerja secara kolaboratif, karena atribut tersebut mungkin dianggap sebagai kelemahan. Dalam budaya yang digerakkan rasa takut, kita akan menemukan persaingan internal yang tidak sehat. Mirisnya, hal itu didorong hanya untuk menaikkan angka penjualan.
4. Intimidasi
Intimidasi bisa merusak bisnis sekaligus merusak mental karyawan. Bentuk intimidasi atau bullying ini dari yang bersifat verbal, perilaku yang mengancam, serangan fisik, hinaan profesional (seperti mengklaim kerja keras orang lain atau menyalahkan orang lain), atau penyalahgunaan wewenang.
Baca Juga: Bullying di Tempat Kerja dalam Sistem Hybrid Lebih Tersamar. Begini Cara Mencegahnya
Sekitar 40 persen korban bullying mengalami kondisi kesehatan yang buruk sebagai akibatnya, mulai depresi dan kecemasan hingga penyakit fisik termasuk fibromyalgia dan masalah kardiovaskular. Dua pertiga korban terpaksa melepaskan pekerjaan atau jabatan mereka untuk menghindari intimidasi.
5. Burnout
Lingkungan kerja yang fleksibel selama pandemi kerapkali bisa menghilangkan batasan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Di beberapa tempat, kerja berlebihan dan standby selama 24/7 membuat kita harus mengorbankan kehidupan pribadi atau keluarga. Tanpa garis yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, karyawan bisa kewalahan. Bekerja jarak jauh, terisolasi dari teman dan rekan kerja, bisa membuat kita stres.
Tanpa empati dari pemimpin terhadap karyawan, lama-kelamaan membuat karyawan mengalami burnout.
Artikel Terkait
Ide Bekal Makan Siang ke Kantor Hari Ini: Tofu Sandwich, Cuma Butuh 10 Menit
Vino G. Bastian dan Adipati Dolken Membintangi Remake "Bayi Ajaib", Film Horor Lawas Keluaran 1982
Inspirasi Kado 'Last Minute' Buat Ibu Tersayang di Hari Ibu: Staycation sampai Spa
Resep Istimewa Buat Hari Ibu, Bagi Kamu yang Sibuk Kerja
Favorit di FYP, Ini Dia Rangkaian Video Terpopuler dari Year on TikTok 2022!