PejuangKantoran.com - Saat ini, mayoritas masyarakat dunia sedang menyerukan dukungan untuk warga Palestina yang satu bulan lebih telah diserang oleh militer Israel. Demonstrasi untuk mendukung Palestina dan tagline “Free Palestine” beredar di mana-mana.
Salah satu cara yang dilakukan oleh banyak orang di berbagai negara untuk mendukung Palestina adalah dengan memboikot produk-produk pro Israel. Di antaranya merek-merek Amerika yang secara terang-terangan mendukung dan memberikan bantuan dana ke Israel.
Baca Juga: Kalau Tiket Konser Coldplay Kamu Beda Nama, Perhatikan Hal Ini Sebelum Datang Konser
Padahal, banyak dari produk tersebut yang sudah mendunia dan sehari-hari sudah digunakan oleh banyak orang, termasuk di Indonesia. Apa dampak boikot produk pro Israel terhadap perekonomian?
Gerakan boikot memicu penurunan harga saham
Seperti yang disebutkan, akibat adanya konflik Israel dan Palestina, warganet mulai menyerukan gerakan boikot produk pro Israel.
Apalagi Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga sudah mengeluarkan fatwa haram terhadap produk-produk tersebut.
Banyak di antara produk yang pro Israel tersebut sudah mendunia sejak lama. Hal ini tak lain disebabkan adanya perjanjian yang disebut “Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Serikat-Israel” pada 1985.
Berkat perjanjian tersebut, perekonomian Israel mengalami transformasi dari yang berbasis manufaktur dan pertanian, menjadi ekonomi yang beragam dan maju.
Namun dengan terjadinya aksi boikot produk pro Israel, beberapa produk tersebut mengalami penurunan harga saham yang signifikan. Boikot pada perusahaan-perusahaan tersebut memiliki dampak besar di pasar Timur Tengah.
Baca Juga: Prilly Latuconsina Sabet Piala Citra sebagai Pemeran Pendukung Wanita Terbaik untuk Budi Pekerti
Misalnya saja Starbucks, yang dari 23 – 27 Oktober 2023 mengalami penurunan saham 1,96%. Sementara restoran cepat saji McDonald’s sahamnya juga turun sebanyak 0,33%. Lalu, ada Disney yang mengalami penurunan harga saham paling banyak, yaitu 3.37%.
Namun perusahaan-perusahaan ini tidak tinggal diam, dan mencari cara untuk kembali menarik daya beli masyarakat. Salah satunya adalah dengan memberikan promo besar-besaran.
Belum ada bukti apakah cara tersebut berhasil membuat orang mau membeli kembali produk mereka.
Artikel Terkait
Pengamat Sebut Pencalonan Gibran Jadi Cawapres Cacat Legitimasi Hukum
Tes Seleksi Kompetensi PPPK Sudah Dimulai, BKN Ingatkan Jadwal Tidak Tertulis di Kartu Seleksi
Kabar Gembira untuk Para Buruh! Upah Minimum Naik di 2024, Disesuaikan Masing-Masing Daerah
Ini Perkiraan Besaran Upah Minimum Provinsi Setelah Mengalami Kenaikan pada 2024
Cara Menghitung Nilai Lolos SKD CPNS 2023 dan Link Live Score untuk Memantaunya!
Buktikan Anak Muda Tidak Apolitik, TKN Fanta Creative Tunjukkan Dukungan Pada Prabowo Gibran