PejuangKantoran.com - Teknologi memang dikembangkan untuk memudahkan tugas-tugas manusia. Tidak mengherankan, teknologi termasuk AI digunakan di berbagai industri, dari keuangan hingga layanan kesehatan.
Industri lain yang kini makin banyak menggunakan tools AI adalah musik. Malahan, ChatGPT menjadi tools AI yang paling banyak digunakan musisi untuk memproduksi musik.
Ada banyak manfaat ChatGPT untuk musisi, misalnya, sekitar 30% musisi menggunakan AI untuk menulis lagu dan membuat komposisi musik.
Baca Juga: Sutradara Charles Gozali Jajaki Kemungkinan Pemukiman Setan Buat Universe Sendiri
Fakta ini diketahui dari hasil survei oleh studio musik Pirate, setelah meminta pendapat 1.000 musisi mengenai 10 tools AI yang paling banyak digunakan musisi untuk menggarap musik.
Dari 10 tools AI yang paling banyak digunakan musisi, ChatGPT menempati peringkat teratas. Manfaat ChatGPT untuk musisi, menurut salah satu responden adalah untuk menghasilkan lirik, sajak, dan variasi yang sesuai dengan melodi yang sudah dibuatnya.
“Aku menggunakan ChatGPT untuk membantu menciptakan pengaturan plugin tertentu, mereplikasi suara dan instrumen dari lagu yang ada," ujar responden lain, sambil menjelaskan bahwa ChatGPT juga berguna untuk mengatasi kendala teknis.
Apa lagi manfaat ChatGPT untuk musisi?
Sebanyak 25% musisi sudah menggunakan AI untuk karya studio mereka, di mana 72% di antaranya mengaku punya pengalaman positif dengan tool AI tersebut.
Hasil survey Pirate menunjukkan bahwa 30% musisi menganggap AI sangat berguna dalam penulisan lagu dan komposisi, 21% memanfaatkan AI untuk penelitian dan inspirasi, 12% untuk pembuatan irama dan ritem, serta 10% untuk proses mastering.
Tools AI yang paling banyak digunakan musisi peringkat selanjutnya adalah Ozone 11 (2) untuk mastering, LALAL.AI (3), BandLab SongStarter (4), GOYO (5), AIVA (6), AWS DeepComposer (7), Moises App (8), Magenta Studio (9), dan StemRoller (10).
Baca Juga: Tidak Tertutup Kemungkinan Pekerja Kantoran Ikut Olahraga Bela Diri Kickboxing
Penggemar kurang mengapresiasi
Meskipun para musisi mengaku sangat terbantu dengan tools AI, para penggemar ternyata kurang mengapresiasi karya musik yang telah “dicampuri” oleh AI.
Kebanyakan penggemar musik bahkan meyakini harus ada batasan dalam penggunaan artificial intelligence dalam musik, demikian dilaporkan dalam Global Music Report.
Respons tersebut diperoleh International Federation of the Phonographic Industry (organisasi yang mewakili industri rekaman di seluruh dunia) dari 43.000 penggemar musik dari 26 negara.
Artikel Terkait
COVID-19 varian JN.1 Sudah Masuk ke Indonesia, Apakah Berbahaya dan Apa Saja Gejalanya?
Jadwal Buka Bank saat Libur Natal dan Tahun Baru, Mulai BI, Bank Mandiri, hingga BCA
Belum Melakukan Pemadanan NPWP dan NIK hingga Juni 2024, Siap-Siap Bayar PPh 21 Lebih Besar!
Efek Kesuksesan Peran sebagai Pelakor di Layangan Putus, Anya Geraldine Mengaku Sering Di-Bully Warganet
Mengenal Sales Associate: Tugas dan Tanggung Jawab, Keterampilan yang Dibutuhkan, dan Besaran Gajinya
Lowongan Kerja Trading Sales Administration Staff for Food Business di PT Mitsui Indonesia
8 Film untuk Menyambut Tahun Baru, dari Layangan Putus sampai Aquaman and the Lost Kingdom