Mayoritas responden (79%) sepakat bahwa kreativitas manusia adalah bagian terpenting dari penciptaan musik, sedangkan 73% responden mengatakan bahwa musik yang menggunakan AI harus menyatakan dengan jelas bahwa hal tersebut (AI) memang diperlukan dalam prosesnya.
Hasil survey IFPI juga mengungkapkan bahwa meskipun ada pertumbuhan dalam peniruan karya artis, 74% setuju bahwa AI tidak boleh digunakan untuk meniru artis tanpa persetujuan mereka. Selain itu, 76% mengatakan AI tidak boleh menggunakan musik tanpa izin.
Namun, awal tahun ini, distributor musik Ditto Music mengungkapkan bahwa 59,5% artis sudah menggunakan AI untuk membuat musik, sementara 47% lainnya cenderung akan memanfaatkan menggunakan AI untuk penulisan lagu di masa depan.
“Meskipun penggemar musik di seluruh dunia melihat peluang dan ancaman terhadap musik dari artificial intelligence, pesan mereka jelas: keaslian itu penting,” kata Frances Moore, kepala eksekutif IFPI kepada Music Week.
Menurutnya, secara khusus penggemar percaya bahwa sistem AI hanya boleh menggunakan musik jika sudah mengantongi izin, dan sistem harus transparan mengenai materi yang diserap oleh sistem mereka.
“Hal ini merupakan pengingat yang tepat waktu bagi para pembuat kebijakan saat mereka mempertimbangkan cara menerapkan standar untuk AI yang bertanggung jawab dan aman,” pungkasnya.
Artikel Terkait
COVID-19 varian JN.1 Sudah Masuk ke Indonesia, Apakah Berbahaya dan Apa Saja Gejalanya?
Jadwal Buka Bank saat Libur Natal dan Tahun Baru, Mulai BI, Bank Mandiri, hingga BCA
Belum Melakukan Pemadanan NPWP dan NIK hingga Juni 2024, Siap-Siap Bayar PPh 21 Lebih Besar!
Efek Kesuksesan Peran sebagai Pelakor di Layangan Putus, Anya Geraldine Mengaku Sering Di-Bully Warganet
Mengenal Sales Associate: Tugas dan Tanggung Jawab, Keterampilan yang Dibutuhkan, dan Besaran Gajinya
Lowongan Kerja Trading Sales Administration Staff for Food Business di PT Mitsui Indonesia
8 Film untuk Menyambut Tahun Baru, dari Layangan Putus sampai Aquaman and the Lost Kingdom