Ingin Kerja di Jepang? Ini Kenyataan Soal Upah dan Budaya Kerja di Jepang yang Jarang Diketahui

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 23 Desember 2023 | 07:00 WIB
Ilustrasi: Benarkah upah dan kualitas hidup di sana dianggap lebih baik daripada di Indonesia? (Freepik)
Ilustrasi: Benarkah upah dan kualitas hidup di sana dianggap lebih baik daripada di Indonesia? (Freepik)

PejuangKantoran.com - Bekerja di luar negeri menjadi impian sebagian masyarakat Indonesia. Salah satu negara yang sering menjadi tujuan adalah Jepang. Upah dan kualitas hidup di Jepang dianggap lebih baik daripada di Indonesia.

Faktanya, warga Jepang sendiri tidak terlalu setuju dengan anggapan bahwa kualitas hidup di Jepang lebih baik. Paling tidak itulah yang dirasakan oleh Yuko Tamura, pemimpin redaksi Japonica dan kontributor dwibahasa The Japan Times.

Menurutnya, budaya kerja di Jepang yang tiada henti sepertinya sudah diketahui banyak orang. Sebelum pandemi, bahkan banyak pekerja yang harus selalu lembur, bersosialisasi pada happy hour, dan tinggal di kantor sampai bos pulang.

Baca Juga: 5 Kisah Menarik Di Balik Pembuatan 13 Bom Di Jakarta, Hasil Kerjasama dengan Pembuat Film Korea 'Parasite'

Namun, baru-baru ini sepertinya budaya kerja di Jepang mulai berubah karena promosi dan jabatan yang tinggi pun tidak lagi bisa memotivasi karyawan.

Salah satu buktinya adalah survei pada 2023, yang mengatakan ada sebanyak 77% dari 1.116 pekerja kantoran Jepang yang melaporkan bahwa mereka tidak ingin menjadi manajer.

Jajak pendapat lain terhadap 100 orang berusia 20-an, menemukan bahwa manfaat dan kualitas hidup adalah hal terpenting yang mereka cari dalam suatu pekerjaan. Hal itu bahkan lebih penting daripada reputasi perusahaan atau kemajuan karier.

Tanggung jawab lebih besar tidak berarti lebih banyak uang

Ada hal unik yang berlaku dalam dunia kerja di Jepang. Di Negeri Sakura itu, semakin lambat kamu menaiki tangga perusahaan, semakin banyak kekuatan penghasilan yang sebenarnya kamu miliki.

Faktanya, banyak orang yang berstatus karyawan memiliki penghasilan lebih besar karena mendapatkan upah lembur, sedangkan manajer mereka tidak mendapatkannya.

Hal itulah yang membuat semakin banyak orang yang enggan menjadi manager. Mereka tidak ingin mengorbankan keluarga dan waktu luang untuk pekerjaan lebih banyak, tetapi lebih sedikit uang yang dihasilkan.

Baca Juga: Usahakan Selalu Menjawab dengan Singkat Saat Wawancara Kerja, Tahu Nggak Kenapa?

Hal itulah yang dialami Yuko Tamura.

“Tujuh tahun yang lalu, saya bekerja di sebuah perusahaan perawatan kesehatan Tokyo dan siap untuk promosi. Namun, ternyata saya dibayar rendah untuk pekerjaan tersebut. Bahkan dengan gelar baru, upah saya tidak akan setara dengan manajer lain,” ceritanya.

Akhirnya, ia menolak pekerjaan tersebut dan justru menegosiasikan kenaikan gaji untuk jabatan sebelumnya yang lebih rendah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Make It

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X