PejuangKantoran.com - Banyak pasangan pekerja muda China ogah punya anak.
Fenomena itu, tulis laman straitstimes.com edisi Rabu (17/1/2024), memang berkaitan erat dengan kebijakan pemerintah China, termasuk saat menghadapi pandemi Covid-19.
"Kebijakan pemerintah China memberi pengaruh pada angka kelahiran," kata Pernyataan Badan Pusat Statistik China.
Pada 1980, China menetapkan kebijakan satu keluarga satu anak.
Kebijakan hingga 2015 itu meningkatkan urbanisasi di China.
Lantaran urbanisasi, biaya hidup di perkotaan menjadi meningkat.
"Biaya pemeliharaan anak dan ongkos pendidikan anak juga meningkat," kata lembaga itu.
China
Badan Pusat Statistik China juga menginformasikan, per 2022, populasi di China mengalami penurunan.
Penurunan ini kembali terjadi sejak 60 tahun silam.
Populasi China kali pertama susut jumlahnya pada 1961.
Kala itu, China mengalami musim kelaparan.
Sampai dengan 2022, ada kelahiran 9,56 juta di China.
Sementara pada 2022 usai, ada 10,41 juta kematian di China.
Artikel Terkait
Begini Jawaban yang Tepat Kalau Ditanya, "Berapa Ekspektasi Gaji Kamu?" Saat Wawancara Kerja
Ternyata, Gen Z Mengikuti Tren Warna
7 Cara Menolak Pekerjaan yang Menunjukkan Kamu Tidak Mampu Bekerja (dan Tidak Disukai Bos!)
Selain Diskon 40%, Dr. Martens Luncurkan Koleksi Terbatas “Year of the Dragon” untuk Rayakan Imlek
Karen's Diner Jakarta Tutup, Kenapa?
Anggaran untuk Beasiswa LPDP akan Dihentikan, Duh Gimana Nasib Peserta yang Masih Ingin Mendaftar?
Dana Beasiswa LPDP yang Diberikan pada Awardee Merupakan Imbal Hasil Manfaat Investasi
Pantai Paal, Cara Menjelajah Sulawesi Utara di Samping Taman Nasional Bunaken
Bagaimana Cara Meyakinkan Diri Apakah Harus Mendelegasikan Tugas atau Melakukannya Sendiri?
Yang Dipelajari Natasha Wilona ketika Berturut-Turut Berperan sebagai Orang yang Bisa Melihat Kematian