Namun, hal yang tidak diperhitungkan adalah bahwa lebih banyak uang dan pengakuan tidak dapat mengimbangi fakta bahwa orang-orang mengorbankan kesehatan mereka demi kesuksesan.
Mereka tidak punya waktu untuk hidup di luar pekerjaan dan, oleh karena itu, mereka tidak menunjukkan performa terbaiknya saat masuk kerja.
Karyawan yang burnout bukanlah karyawan yang pekerja keras. Mereka tidak akan menyelesaikan pekerjaannya, cenderung akan lebih melakukan kesalahan, dan menjadi kurang produktif.
Baca Juga: Cocoklogi ala Prabowo: Begini Makna Angka 8 dan 13 dalam Hidupnya Sejak Muda
Meskipun budaya kerja dalam jam kerja yang lama itu dianggap normal, tidak berarti karyawan merasa nyaman.
Menurut survei dari Bankrate, mayoritas pekerja penuh waktu dan pencari kerja (81%) bahkan mendukung empat hari kerja dalam seminggu dibandingkan jadwal tradisional yang hanya lima hari.
Di antara mereka yang disurvei, 54% bersedia bekerja dengan jam kerja lebih panjang, dan hanya 27% responden yang bersedia datang ke kantor atau lokasi kerja lebih lama atau bekerja secara langsung.
Sedangkan lebih dari sepertiganya –37% – bersedia berganti pekerjaan atau industri.
Artikel Terkait
Hailey Bieber Hamil Anak Pertama, Pasangan Hailey-Justin Bieber Umumkan Kehamilan Lewat Video
Jadwalkan Kegiatan Sederhana di Sela Jam Kerja untuk Mengurangi Kelelahan dari Rutinitas
Usai Long Weekend Pekan Ini, Masih Adakah Tanggal Merah dan Long Weekend di Mei 2024?
Kesempatan Langka: Lowongan PR Internship selama 6 Bulan di Louis Vuitton Indonesia!
Tanggapi Komentar CEO Microsoft, CEO Google Sundar Pichai: “Saya Enggan Mainkan Musik Orang Lain”
4 Kesalahan Leader yang Berkaitan dengan Egonya yang Tidak Terkendali, Terapkan Managemen Ego!
Didukung Kemendikbudristek, Gina S. Noer Umumkan Mulainya Penggarapan Film Ki Hadjar Dewantara