Perusahaan Besar Wajibkan Bos-bosnya Bekerja 6 Hari Seminggu untuk Tanamkan Sense of Crisis

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 11 Mei 2024 | 12:37 WIB
Ilustrasi: Bekerja dalam jam kerja yang panjang ternyata bukan hal yang aneh dalam budaya kerja Korea Selatan. (Freepik)
Ilustrasi: Bekerja dalam jam kerja yang panjang ternyata bukan hal yang aneh dalam budaya kerja Korea Selatan. (Freepik)

Namun, hal yang tidak diperhitungkan adalah bahwa lebih banyak uang dan pengakuan tidak dapat mengimbangi fakta bahwa orang-orang mengorbankan kesehatan mereka demi kesuksesan.

Mereka tidak punya waktu untuk hidup di luar pekerjaan dan, oleh karena itu, mereka tidak menunjukkan performa terbaiknya saat masuk kerja.

Karyawan yang burnout bukanlah karyawan yang pekerja keras. Mereka tidak akan menyelesaikan pekerjaannya, cenderung akan lebih melakukan kesalahan, dan menjadi kurang produktif.

Baca Juga: Cocoklogi ala Prabowo: Begini Makna Angka 8 dan 13 dalam Hidupnya Sejak Muda

Meskipun budaya kerja dalam jam kerja yang lama itu dianggap normal, tidak berarti karyawan merasa nyaman.

Menurut survei dari Bankrate, mayoritas pekerja penuh waktu dan pencari kerja (81%) bahkan mendukung empat hari kerja dalam seminggu dibandingkan jadwal tradisional yang hanya lima hari.

Di antara mereka yang disurvei, 54% bersedia bekerja dengan jam kerja lebih panjang, dan hanya 27% responden yang bersedia datang ke kantor atau lokasi kerja lebih lama atau bekerja secara langsung.

Sedangkan lebih dari sepertiganya –37% – bersedia berganti pekerjaan atau industri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Your Tango

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X