Lemahnya Applicant Tracking System Terungkap saat Manajer Ditolak usai Mengirim CV-nya Sendiri

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Minggu, 3 November 2024 | 16:58 WIB
Ilustrasi: Rekruter tidak bisa terlalu bergantung pada Applicant Tracking System karena kesalahan kecil bisa membuat ratusan kandidat ditolak. (Freepik)
Ilustrasi: Rekruter tidak bisa terlalu bergantung pada Applicant Tracking System karena kesalahan kecil bisa membuat ratusan kandidat ditolak. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Seorang manajer mengungkapkan bahwa setengah dari departemen SDM di perusahaannya dipecat setelah CV miliknya ditolak oleh Applicant Tracking System (ATS) atau sistem pelacakan pelamar otomatis.

ATS, yang dimaksudkan untuk menyederhanakan proses perekrutan, secara otomatis menolak semua kandidat yang melamar pekerjaan tersebut -tanpa dievaluasi secara manual- selama berbulan-bulan.

Peristiwa tersebut bermula ketika manajer di perusahaan teknologi tersebut membuka lowongan kerja untuk satu personel di timnya. Namun setelah tiga bulan berlalu, tidak satu pun kandidat yang berhasil ditemukan.

Baca Juga: Kesalahan Besar dalam Wawancara Kerja: Jangan Langsung Bilang Bisa Mulai Kerja Secepatnya

Untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, manajer tersebut membuat email baru dan mengirimkan CV-nya yang sudah dimodifikasi dengan nama samaran, untuk melihat bagaimana proses rekrutmen berlangsung.

Di luar dugaan, lamaran manajer -yang tentunya punya kualifikasi dan pengalaman- langsung ditolak.

Foto yang dibagikannya di Reddit menunjukkan bagaimana lamaran ditolak pada menit yang sama (pukul 10.56 pagi) saat sang manajer mengirimkan lamaran tersebut.

Manager yang berbasis di Bolivia tersebut mengungkapkan frustrasinya mengenai teknologi perekrutan tersebut melalui tulisannya di Reddit.

“Saya ditolak secara otomatis. SDM bahkan tidak melihat CV saya. Saya melaporkan insiden ini ke manajemen, dan mereka memecat separuh departemen SDM dalam minggu-minggu berikutnya,” tulisnya.

“Masalahnya adalah, mereka mencari seorang ‘angularjs developer’, padahal yang kami cari adalah ‘Angular developer’ (frameworks yang berbeda namun dengan nama yang mirip).

Baca Juga: Dukung Edukasi dan Pembiayaan UMKM, BRI Salurkan Kredit hingga Rp1,1 Triliun pada Akhir Q3

"Kesalahan konyol seperti ini seharusnya bisa diperbaiki dalam beberapa menit, dan karena system otomatis menolak profil CV tanpa ‘angularjs’ di dalamnya, kami kehilangan semua kandidat yang potensial.”

Bagian yang benar-benar menyebalkan adalah ketika berusaha terus menghubungi SDM untuk mengetahui perkembangan rekrutmen tersebut, ia sering mendapat tanggapan yang tidak jelas.

Tim SDM menyalahkan kurangnya kandidat yang layak atas kesulitan perekrutan mereka (yang ternyata bukan begitu masalahnya). Beberapa kandidat hanya diberi tahu bahwa mereka tidak lolos tahap penyaringan awal.

“Orang-orang SDM itu nggak mutu dan pemalas,” tandasnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: News18, Livemint.com, Money Control

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X