JAFF Market Mencetak Banyak Kolaborasi Menarik di Antara Sesama Filmmaker

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Rabu, 11 Desember 2024 | 11:35 WIB
Momen ketika film produksi Indonesia-Malaysia  “The Silent Village” karya Ho Yuhang (skenarionya  ditulis oleh Prima Rusdi) muncul sebagai pemenang utama di JAFF Market perdana di Indonesia. (JAFF-market.com)
Momen ketika film produksi Indonesia-Malaysia “The Silent Village” karya Ho Yuhang (skenarionya ditulis oleh Prima Rusdi) muncul sebagai pemenang utama di JAFF Market perdana di Indonesia. (JAFF-market.com)

PejuangKantoran.comJAFF Market, pasar film pertama dan terbesar di Indonesia yang merupakan bagian dari gelaran Jogja-NETPAC Asian Film Festival, selesai digelar selama tiga hari sejak 3 - 5 Desember 2024.

Ada sekitar 151 booth dan 96 perusahaan dari berbagai industri perfilman yang hadir untuk memperkenalkan bisnis serta proyek-proyek terbaru mereka.

Banyak kegiatan menarik yang berlangsung selama JAFF Market yang pertama ini. Beberapa booth besar membuka kesempatan publik untuk mengirimkan ide-ide cerita seperti yang dilakukan Dapur Film.

Rumah produksi milik Hanung Bramantyo itu selalu dipenuhi mahasiswa kampus seni sekitar Yogyakarta yang tertarik terjun di dunia film.

Sedangkan booth MD Pictures dan Visinema mengubah beberapa pojok stand mereka dengan set film mereka.

MD Pictures menampilkan properti dari Sewu Dino dan Ivanna. Sedangkan Visinema dengan properti dari film Mencuri Raden Saleh dan film animasi panjang mereka yang akan rilis tahun depan, Jumbo.

Dari sisi industri, JAFF Market membuka kesempatan bagi para pelaku industri untuk membuka networking dan bahkan menjalin kerja sama.

Salah satunya Miles Production. Rumah produksi milik Mira Lesmana ini mengumumkan proyek film musikal mereka, Rangga & Cinta, yang diinspirasi dari film Ada Apa dengan Cinta. Proyek ini akan bekerja sama dengan Imajinari dan Barunson E&A sebagai produser eksekutif (investor).

Sedikitnya ada 1.767 meeting dan 61 MOU telah ditandatangani selama tiga hari perhelatan yang berhasil menarik 6.723 pengunjung dari 18 negara berbeda itu.

Pencapaian lain dari acara ini adalah kehadiran JAFF Future Project (JFP) yang menjadi wadah rumah produksi baru yang sedang mencari pendanaan dari berbagai aspek produksi film.

Tak sembarang rumah produksi yang bisa mengikuti ini. Panitia JFP menerima 74 pendaftaran dan memilih 10 proyek untuk bergabung.

Tujuh projek berasal dari Indonesia, satu dari Malaysia, dan dua dari Australia. Kesepuluh proyek ini kemudian dipresentasikan kepada pihak investor atau industri yang berminat.

Ternyata, inisiatif JFP ini berhasil mengadakan 243 project meeting dan menghasilkan 4 award yaitu, Kongchak Award, Whitelight Post-Production Award, dan dua dari BSM Award.

Penerima award ini adalah:
• Kongchak Award: The Silent Village (AMAN/DAMAI) karya sutradara Ho Yuhang, produser oleh Lorna Tee
• White Light Post-Production Award: Pangku, karya sutradara Reza Rahadian, produser oleh Arya Ibrahim & Gita Fara
• BSM Awards: The Silent Village (AMAN/DAMAI), karya sutradara Ho Yuhang, produser Lorna Tee
• BSM Awards: Until Death (Sampai Mati), karya sutradara Ben Golotta, produser oleh Morgan Wright & Ben Gollottta

Kesempatan untuk berjaring di dalam sebuah ekosistem yang diciptakan dan diatur oleh JAFF ini tentu saja disambut dengan baik, terutama bagi pemilik IP (intellectual property) baru.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X