Pejuangkantoran.com – Perempuan bukan hanya objek pembangunan, tetapi juga subjek aktif dan penggerak utama dalam pembangunan Indonesia. Meningkatkan partisipasi perempuan secara setara dan memberikan mereka akses serta perlindungan yang adil akan memperkuat fondasi pembangunan nasional yang berkelanjutan dan inklusif.
Perempuan menjadi salah satu kontributor ekonomi dalam bidang tenaga kerja (informal maupun formal, termasuk UMKM, pertanian, industry rumahan, dan jasa). Selain itu Perempuan banyak yang menjadi pelaku UMKM yang mendukung pertumbuhan eonomi nasional maupun internasional.
Dan sangat banyak perempuan yang menjadi pengelola utama keuangan rumah tangga yang berdampak pada kestabilan ekonomi keluarga dan masyarakat.
Perempuan juga bisa memberikan peranan penting untuk membantu pemberdayaan masyarakat agar semakin maju. Kisah ini bisa ditemui di Kelompok Wanita Tani (KWT) Sari Amerta Giri yang berada di Dusun Asah Panji, Desa Wanagiri, Sukasada, Bali.
Wanagiri adalah desa yang tak hanya berpotensi karena keelokan alamnya. Wanagiri juga memiliki potensi pertanian dan perkebunan yang besar.
Menurut Ketua KWT Sari Amerta Giri, Ni Nyuman Budiani, kelompok ini pertama kali berdiri pada tahun 2009 yang tujuan awalnya adalah untuk pemberdayaan masyarakat.
Sewaktu Ni Nyoman Budiani pertama kali tinggal di desa tersebut, diajak aktif untuk mengikuti kegiatan pemberdayaan masyarakat. Sari kemudian mengenal konsep kelompok wanita tani lewat salah satu kegiatan bersama anggota dewan.
“Dari situ akhirnya mulai terpikirkan untuk membuat kelompok serupa karena di Wanagiri masih belum ada,” ungkapnya.
Perempuan yang akrab disapa Ani ini kemudian mengumpulkan beberapa wanita dari desa untuk mendirikan wadah serupa. Ia mulai mengajak para perempuan di desa tersebut untuk membentuk kelompok tani agar menjadi wadah bagi mereka.
Tujuan pembentukan kelompok tersebut adalah untuk mendorong kemajuan para ibu di daerah itu dalam mengembangkan potensi diri guna mendukung pembangunan desa.
Ani juga mengundang tim penyuluh lapangan dari Dinas Pertanian untuk memberikan pendampingan. Kelompok Wanita Tani (KWT) Sari Amerta Giri terbentuk pada tahun 2009 dengan jumlah anggota awal sebanyak 17 orang.
Awalnya KWT Sari Amerta Giri hanya fokus mengelola lahan pertanian milik anggota. Setelah mendapatkan bantuan berupa mesin roasting kopi dari Bupati yang menjabat saat itu, KWT Sari Amerta pun mengembangkan kegiatan usaha lain.
Dari sini, KWT Sari Amerta mulai membuat produk kopi bubuk sendiri dan diberi label nama Dua Putri.
Artikel Terkait
Program Desa BRILian Mendorong UMKM Camilan Khas Desa Hargobinangun Menjadi Andalan
Fasilitasi Sertifikasi Halal bagi Pelaku Usaha oleh BRI Peduli Juga Mendorong Daya Saing UMKM
Indeks Bisnis UMKM BRI Untuk Mengukur Sentimen Pelaku UMKM dan Menjadi Acuan Dalam Menyusun Kebijakan
UMKM Kopi Binaan BRI Catat Potensi Kesepakatan Bisnis di Specialty Coffee Expo 2025 di Houston, Amerika Serikat
Penyaluran Kredit Usaha Rakyat BRI untuk Segmen UMKM Mencapai Rp54,9 Triliun hingga April 2025
Batik Parang Kaliurang 'Limited Edition', UMKM Binaan Desa BRILiaN dari Kalurahan Hargobinangun