Alasan Utama Mengapa Pilot Dilarang Memakai Parfum atau Hand Sanitizer sebelum Penerbangan

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 14 Juli 2025 | 07:58 WIB
Ilustrasi: Ada alasan khusus mengapa pilot di beberapa negara tidak boleh memakai parfum. (PejuangKantoran.com/Gemini AI)
Ilustrasi: Ada alasan khusus mengapa pilot di beberapa negara tidak boleh memakai parfum. (PejuangKantoran.com/Gemini AI)

PejuangKantoran.com - Setiap profesi yang menuntut keahlian dan pengetahuan tertentu memiliki aturan atau standar yang terkait pekerjaannya. Aturan ini bisa formal, seperti kode etik atau persyaratan perizinan, atau lebih informal, seperti etiket profesional atau praktik terbaik dalam suatu bidang.

Hal yang sama berlaku untuk pilot. Selain harus mengantongi lisensi menerbangkan pesawat multi-engine, misalnya, di beberapa negara pilot dilarang pakai parfum sebelum penerbangan. Ada alasan khusus mengapa aturan ini harus dipenuhi.

Menurut regulator penerbangan India, pedoman Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil (DGCA), sebelum setiap penerbangan, pilot wajib menjalani tes breathalyzer untuk memastikan bahwa mereka tidak berada di bawah pengaruh alkohol.

Baca Juga: Nggak Hanya Jadi Film Panjang Pertama Vidio, Alibii.com Juga Jadi Debut Akting Lyodra

Hal ini terutama berlaku untuk produk berbasis alkohol (hand sanitizer, obat kumur, parfum) yang mengandung etil alkohol, senyawa yang sama yang diukur dalam breathalyzer.

"Jika seorang pilot menggunakan hand sanitizer atau menyemprotkan parfum sebelum tes, dan ada uap alkohol di udara atau mulut, itu dapat menyebabkan hasil positif palsu atau pembacaan yang meningkat," kata Kapten Anil Rao, Sekretaris Jenderal ALPA India.

Jadi, pilot dilarang pakai parfum karena banyak parfum dan cologne yang berbahan dasar alkohol, keduanya dapat mengganggu hasilnya, kata para ahli.

“Alat breathalyzer sangat sensitif sehingga dapat mendeteksi 0,0001 persen alkohol. Jadi, jika pilot memakai parfum, alat tersebut dapat mendeteksi alkohol dari parfum dan menunjukkan hasil positif palsu, meskipun tidak ada alkohol yang dikonsumsi,” tambah Kapten Tomar Awdhesh, direktur, Golden Epaulettes Aviation.

Kalau terdeteksi, hasil tersebut bisa berisiko menunda penerbangan, dan pilot mungkin harus menghadapi tindakan disipliner terlepas dari niat mereka, lanjut Kapten Awdhesh.

Kapten Rao mengatakan, breathalyzer penerbangan (yang digunakan oleh DGCA atau otoritas maskapai) sering dikalibrasi dan memerlukan udara paru-paru yang dalam, bukan hanya uap mulut.

Baca Juga: Agar UMKM Naik Kelas, BRI Berdayakan 41 Ribu Klaster Usaha melalui Pembiayaan dan Pelatihan

“Di sebagian besar maskapai penerbangan, pilot diminta untuk tidak menggunakan produk berbahan dasar alkohol segera sebelum tes.

"Jika hasil yang tinggi terdeteksi, pengujian ulang dilakukan setelah menunggu sebentar untuk tes ulang,” kata Kapten Rao.

Kemudian, pilot harus menunggu sampai tes selesai dilakukan demi keselamatan penerbangan.

“Setelah tes breathalyzer selesai, mereka menggunakan parfum sesuai kebutuhan mereka. Ini hanya masalah keselamatan dan kepatuhan terhadap pedoman DGCA,” kata Kapten Awdhesh.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Indian Express

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X