Berasa Nggak Belakangan Ini Panas Banget? BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Panas Ekstrem di Indonesia

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Kamis, 16 Oktober 2025 | 08:10 WIB
Ilustrasi BMKG ungkap alasan cuaca Bandung terasa sangat panas akhir-akhir ini. (Pixabay @geralt)
Ilustrasi BMKG ungkap alasan cuaca Bandung terasa sangat panas akhir-akhir ini. (Pixabay @geralt)

PejuangKantoran.com - Cuaca panas menyengat dalam sepekan terakhir tengah melanda sejumlah kota di Indonesia. Pada Kamis, 15 Oktober 2025, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu udara siang hari di wilayah Pulau Jawa hingga Bali mencapai 36 derajat Celsius, menjadikannya salah satu periode paling terik di tahun ini.

Fenomena ini bukan sekadar “perasaan panas”, melainkan kondisi nyata yang dipicu oleh beberapa faktor atmosfer dan perubahan musim.

Berdasarkan analisis BMKG, suhu tinggi yang terjadi belakangan ini merupakan bagian dari masa pancaroba, yaitu masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.

BMKG menjelaskan bahwa suhu siang yang begitu terik disebabkan oleh pemanasan matahari yang kuat di permukaan bumi. Langit cerah tanpa awan membuat sinar matahari menembus langsung ke permukaan tanpa hambatan, meningkatkan suhu udara di banyak wilayah.

Baca Juga: Post-holiday Turnover, Resign Setelah Liburan. Apa yang Bisa Dilakukan Karyawan dan Atasan?

“Pada periode pancaroba ini, hujan umumnya terjadi pada sore hingga malam hari, yang didahului cuaca hangat dan terik di pagi hingga siang hari,” tulis BMKG dalam laporan Prospek Cuaca Mingguan periode 10–16 Oktober 2025.

Fenomena ini juga memicu terbentuknya awan konvektif seperti Cumulonimbus, yang dapat menyebabkan hujan deras berdurasi singkat. Dalam beberapa hari terakhir, hujan dengan intensitas tinggi juga terpantau di sejumlah daerah seperti Ternate, Manado, dan Poso.

Pengaruh Dinamika Atmosfer Global

Selain faktor lokal, BMKG menyebut dinamika atmosfer global turut berperan memperkuat kondisi cuaca ekstrem ini.
“Nilai Dipole Mode Index yang negatif memperkuat pembentukan awan hujan di wilayah barat Indonesia, sementara gelombang Kelvin dan Rossby Ekuator menambah labilitas atmosfer yang meningkatkan potensi hujan ekstrem,” jelas BMKG.

Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat cuaca di siang hari terasa panas, namun pada waktu yang sama meningkatkan peluang hujan deras di sore hingga malam hari di berbagai wilayah.

Baca Juga: Tools Pengenalan Suara dan Ekspresi Wajah dari BRIN Ini Bikin Penyandang Disabilitas Lebih Mudah Komunikasi!

 

Cuaca Sepekan ke Depan: Potensi Hujan Lebat Meningkat

Dalam sepekan ke depan, BMKG memprediksi peningkatan pembentukan awan hujan secara signifikan di beberapa wilayah Indonesia. Aktivitas atmosfer global, regional, dan lokal diperkirakan saling berinteraksi, memicu hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat.

Sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Sumatera dan belokan angin di beberapa wilayah juga diperkirakan memperkuat potensi hujan.
Beberapa daerah seperti Aceh, Jawa Barat, Sulawesi Barat, dan Papua Selatan kini masuk dalam kategori siaga hujan lebat.

“Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang,” tutup BMKG.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X