PejuangKantoran.com - Meskipun topik seputar Artificial Intelligence (AI) hampir setiap hari jadi pembicaraan, dari pendidikan hingga pekerjaan, penelitian baru menunjukkan bahwa penggunaan AI dalam aktivitas online sebagian besar orang masih jarang.
Fakta tersebut diperoleh dari sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking. Dari analisis lebih dari 14 juta kunjungan website, hasilnya cukup mengejutkan: penelusuran terkait AI hanya menyumbang kurang dari satu persen dari total aktivitas online kebanyakan orang.
Menurut Emily McKinley, peneliti dan kandidat PhD dari University of California, Davis, publik memang banyak membicarakan AI, tetapi data objektif tentang penggunaannya masih minim.
Baca Juga: Kalau Mau Karier Lancar, Kuncinya Bukan Cuma Skill tapi Juga Punya Koneksi yang Luas
“Ada begitu banyak diskusi publik tentang AI dan dampaknya bagi masyarakat, tetapi ternyata sangat sedikit data objektif tentang bagaimana orang benar-benar menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari,” jelas McKinley.
Siapa yang paling sering menggunakan AI?
Penelitian ini terdiri atas dua studi terpisah. Studi pertama melibatkan 499 mahasiswa dari dua universitas, sementara studi kedua mencakup 455 responden dari masyarakat umum. Selama 90 hari, para peserta diminta membagikan riwayat penelusuran web mereka.
Data tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui seberapa sering mereka mengunjungi situs berbasis AI seperti ChatGPT dan Microsoft Copilot. Hasilnya, mahasiswa menggunakan AI sekitar 1 persen dari total kunjungan situs web mereka. Di sisi masyarakat umum, angkanya bahkan lebih rendah, cuma 0,44 persen.
“Kami benar-benar terkejut melihat seberapa jarang penggunaan AI, bahkan di kalangan mahasiswa yang biasanya cepat mengadopsi teknologi baru,” ujar McKinley.
ChatGPT menjadi platform AI yang paling populer, mencakup lebih dari 85 persen dari seluruh kunjungan terkait AI.
Baca Juga: Pengguna Smartwatch yang Aktif Olah Raga, Rawat Gadgetmu Dari Dampak Keringat Berikut Ini!
Kepribadian para pengguna AI
Menariknya, penelitian ini menemukan korelasi antara kepribadian pengguna AI dan tingkat penggunaan mereka. Mahasiswa yang lebih sering menggunakan AI cenderung memiliki skor tinggi dalam sifat-sifat seperti narsisisme, Machiavellianism (manipulatif, culas, mementingkan diri sendiri), dan psikopati, yang dikenal sebagai dark personality traits.
Kelompok kecil yang disebut “prolific users”, yaitu mereka yang menjadikan AI lebih dari 4 persen dari aktivitas internetnya, menunjukkan kecenderungan sifat tersebut lebih kuat. Namun, pola ini tampak lebih lemah di kalangan masyarakat umum.
Lebih banyak digunakan untuk produktivitas
Artikel Terkait
5 Manfaat Mengetahui Body Mass Index, Terutama Bagi Kamu yang Sedang Menjalani Diet
Rekrutmen PPNPN Bea Cukai 2025: Kesempatan Berkarier di BLBC Kelas I Jakarta
Lowongan Kerja: @america Jakarta Buka Posisi Social Media Specialist
Rencana Praktis 7 Hari Pasca Kena PHK yang Baik Untuk Dijalani Agar Mental Kamu Pulih
Meta Makin Gaspol di Dunia AI, Gaet Anak Muda Jenius seperti Alexandr Wang Jadi Pemimpin
Luar Biasa... Krisdayanti Jadi Atlet Wushu dan Siap Tanding di Kejuaraan Wushu Dunia di China!
6 Karakter Personal dan Pekerjaan yang Cocok-Tak Cocok bagi Setiap Karakter Berikut Alasannya