Tak hanya itu, tingkat partisipasi dalam rapat juga meningkat hingga 40% karena peserta jadi lebih fokus berdiskusi tanpa harus sibuk mencatat.
Meski begitu, di balik semua kemudahan itu, muncul rasa cemas di kalangan pekerja muda. Mereka khawatir bahwa teknologi yang saat ini membantu pekerjaan mereka justru akan mengancam karier mereka di masa depan.
Menurut survei D2L, lebih dari separuh pekerja muda atau sebanyak 52% takut akan digantikan oleh orang lain yang lebih ahli menggunakan AI. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pekerja yang lebih senior.
Baca Juga: Jika Rapat Lama dan Bertele-tele, Lakukan Ini agar Meeting Lebih Efektif dan Cepat Selesai
Survei dari Deutsche Bank juga menemukan bahwa 24% pekerja berusia 18 – 34 tahun menilai rasa takut kehilangan pekerjaan mereka berada di level 8 dari 10. Sementara di kelompok usia di atas 55 tahun, hanya 10% yang merasa seperti itu.
Bahkan, para pemimpin bisnis pun menilai bahwa pekerja muda adalah kelompok paling rentan terhadap penggantian oleh AI, setelah generasi milenial.
Jadi, meskipun pekerja generasi muda menikmati manfaat seperti efisiensi kerja, peluang promosi, dan penghasilan yang lebih tinggi, banyak dari mereka yang mulai bertanya-tanya:
“Apakah ketergantungan pada AI ini justru akan membuat aku kurang bernilai di masa depan?” ***
Artikel Terkait
Virtual Assistant, Pekerjaan Remote yang Lagi Diminati. Simak Cara Kerjanya!
Langkah-Langkah Membuat Ringkasan Rapat yang Sempurna. Apa Peran AI di Sini?
Hindari 9 Sikap Tidak Sopan yang Sering Dilakukan Orang Saat Meeting Seperti Ini!
5 Tips Penting Memilih Pekerjaan Remote, Jangan Asal Pilih agar Tidak Merugikan Kamu!
5 Risiko Tak Terduga Jika Kamu Menggunakan AI Notetaker untuk Membuat Notulensi Rapat
Ini yang Kamu Cari Kan: Lowongan Kerja Virtual Assistant di WoundCare Zone (Full Remote, USA)