PejuangKantoran.com - Kalau kamu lulusan universitas ternama tetapi tidak juga mendapat pekerjaan setelah setahun berjuang, mau nggak kamu bekerja sebagai pengasuh untuk keluarga miliarder?
Faktanya, sekarang ini makin banyak Gen Z yang meninggalkan pekerjaan kantoran untuk bekerja sebagai nanny, asisten, atau chef pribadi bagi miliarder. Kenapa tren ini semakin diminati?
Beberapa tahun terakhir, semakin banyak karyawan muda yang meninggalkan pekerjaan kantoran dengan gaji tetap, dan bekerja untuk orang kaya sebagai pengasuh anak, asisten pribadi, atau private chef mereka.
Baca Juga: Waspada, Pelecehan di Tempat Kerja Bisa Dilakukan oleh Pihak Luar. Apa Tanggung Jawab Perusahaan?
Fenomena ini mencerminkan pergeseran besar dalam cara pandang terhadap karier dan makna kesuksesan. Di era di mana “white-collar dream” mulai memudar, pekerjaan blue collar berbalut kemewahan bakal jadi impian baru.
Cassidy O’Hagan, salah satunya, pernah bekerja di dunia medis sebelum akhirnya beralih menjadi pengasuh anak buat keluarga superkaya.
Dia punya tabungan sekitar 400 ribu dollar, tunjangan kesehatan, PTO (paid time off, atau cuti berbayar), dan gaji enam digit.
Ia menolak menyebutkan jumlah gajinya karena sudah menandatangani NDA (non-disclosure agreement) untuk menjaga kerahasiaannya. Namun ia bilang jumlahnya antara 150.000 dan 250.000 dollar per tahun.
Belum lagi fasilitas lain seperti makanan yang dimasak oleh private chef, lemari pakaian pribadi (berikut isinya, tentunya), punya sopir pribadi yang siap mengantar ke mana-mana, dan keliling dunia dengan jet pribadi.
“Pekerjaanku sebagai tenaga penjualan medis ortopedi nggak akan bisa menyainginya,” ujar Cassidy. Ia menggambarkan betapa besar perbedaan kesejahteraan dan gaya hidup antara pekerja kantoran dan mereka yang bekerja untuk orang kaya yang "duitnya nggak berseri".
Dengan gaji enam digit, fasilitas lengkap, dan kesempatan keliling dunia menumpang jet pribadi, ia merasa sudah sukses. Inilah pekerjaan yang diinginkannya selama ini.
Simbol kebebasan finansial
Fenomena Gen Z yang memilih bekerja untuk orang kaya ini tidak muncul begitu saja. Hal ini berawal dari banyaknya Gen Z yang saat ini merasa kecewa dengan dunia kerja korporat yang dianggap menekan dan tidak seimbang.
Survei Deloitte 2025 menunjukkan, hanya 6% Gen Z yang bercita-cita mencapai posisi pimpinan di tempat kerja. Sebaliknya, mereka mengutamakan fleksibilitas, keseimbangan hidup, dan makna pribadi.
Artikel Terkait
6 Negara Terbaik dengan Visa Pasangan untuk Mahasiswa Internasional di 2025
Lagi Naik Daun, Benarkah Roti Sourdough Lebih Sehat?
Jadi Produk SBN Terakhir Tahun Ini, ST015 Tawarkan Imbal Hasil Minimal 5,45%. Lebih Tinggi dari Deposito!
Pilih Ordal untuk Menempati Jabatan Penting Tidak Selalu Buruk, Kadang Justru Ini yang Terbaik
Untung-Rugi Memakai AI untuk Gantikan Kehadiran Mereka saat Meeting yang Sedang Tren di Pekerja Muda
Ketentuan Kuota Jumlah Karyawan Wanita-Laki-Laki Tidak Salah, Namun Inklusi Tak Sekadar Itu. Berikut Penjelasannya!
Makin Banyak Perempuan di Level Chief, tapi Mengapa Banyak Juga yang Terhambat di Level Menengah?