Ketentuan Kuota Jumlah Karyawan Wanita-Laki-Laki Tidak Salah, Namun Inklusi Tak Sekadar Itu. Berikut Penjelasannya!

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Kamis, 13 November 2025 | 12:05 WIB
Bukan soal jumlah kuota pekerja atau karyawan wanita dan laki-laki, namun kompetensi jauh lebih penting. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Bukan soal jumlah kuota pekerja atau karyawan wanita dan laki-laki, namun kompetensi jauh lebih penting. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.com - Banyak perusahaan saat ini punya program diversity, equity, and inclusion (DEI) atau keragaman, kesetaraan, dan inklusi. Tujuannya bagus, yaitu agar setiap orang, tanpa memandang jenis kelamin, ras, atau latar belakang, punya kesempatan yang sama.

Namun, ada satu pertanyaan menarik: Bagaimana dengan perusahaan yang fokusnya bukan pada “menyamakan” semua orang, tetapi justru membangun budaya yang menghargai kemampuan dan kinerja secara alami?

Inilah yang terjadi di Garnica, perusahaan penyedia kayu asal Spanyol.

María García Osés, yang sudah hampir empat tahun bekerja sebagai kepala kontrol bisnis di perusahaan itu, mengatakan bahwa di Garnica, karier seseorang berkembang berdasarkan kinerja dan keterampilan. Bukan karena mereka laki-laki atau wanita.

“Di sini tidak ada perbedaan antara wanita dan laki-laki. Semua orang berkembang karena kerja keras dan kemampuan mereka,” kata García Osés.

Menurutnya, suasana seperti itu terjadi secara alami karena perusahaan fokus pada budaya kerja yang sehat, bukan pada angka atau kuota tertentu.

Dia bahkan menolak ide bahwa perusahaan perlu menetapkan target seperti “40% manajer harus wanita”. Menurutnya, inklusi sejati datang dari cara berpikir dan budaya perusahaan, bukan dari angka di atas kertas.

Baca Juga: Pria yang Bekerja di Bank Enggan Cari Pasangan di Industri yang Sama. Banker Wanita Terlalu Mandiri?

Peran bimbingan dan pengembangan perusahaan

Meski begitu, García Osés mengakui bahwa bimbingan dan pelatihan tetap penting, terutama untuk wanita.

Banyak riset menunjukkan bahwa wanita, terutama dari kelompok minoritas, sering memiliki lebih sedikit akses ke pelatihan atau kesempatan pengembangan diri dibanding laki-laki.

Awalnya, García Osés merasa aneh dengan program pelatihan kepemimpinan yang khusus untuk wanita. Namun, setelah mengikutinya, pandangannya berubah.

Ia menyadari bahwa wanita sering punya kekuatan dalam hal soft skills, seperti perencanaan, komunikasi, dan penyelesaian konflik. Namun, kadang mereka kurang percaya diri untuk menunjukkannya.

Program tersebut membuatnya sadar akan kemampuan yang selama ini dianggap sepele.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: HRDive

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X