Mekarnya Rafflesia hasseltii di Sumbar: Momen Langka yang Menggetarkan Dunia

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Selasa, 25 November 2025 | 11:15 WIB
Mengintip kisah penemuan Rafflesia hasseltii di pedalaman hutan Sumatera Barat (Instagram.com/@oxford_uni)
Mengintip kisah penemuan Rafflesia hasseltii di pedalaman hutan Sumatera Barat (Instagram.com/@oxford_uni)

PejuangKantoran.com - Penampakan Rafflesia hasseltii yang mekar di pedalaman hutan Sumatera Barat kembali menggugah perhatian dunia. Bunga raksasa yang dikenal dengan sebutan “si muka harimau” itu akhirnya mekar di kawasan Hiring Batang Sumi, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, sebuah peristiwa yang terjadi setelah penantian panjang selama 13 tahun.

Ekspedisi ini dipimpin oleh ahli biologi dari Universitas Oxford, Dr. Chris Thorogood, yang bekerja bersama pemandu lokal asal Bengkulu, Septian Andriki, serta sejumlah anggota tim lainnya. Momen mekarnya Rafflesia hasseltii bukan hanya langka, tetapi juga begitu emosional hingga viral di media sosial.

Dalam rekaman video yang beredar, Septian tampak tak kuasa menahan air mata ketika kelopak bunga raksasa itu perlahan terbuka pada malam hari. Selama bertahun-tahun ia menjelajahi hutan lebat, yang juga merupakan rumah bagi harimau Sumatra, mencari bunga ini. Dan kini, usahanya akhirnya terbayar.

Video tersebut menjadi simbol dari betapa berartinya penemuan ini bagi para peneliti maupun penjaga alam lokal.

Baca Juga: Perasaan Insecure Itu Wajar Apabila Kamu Berada Dalam 5 Kondisi Berikut Ini!

Tak lama setelah kabar itu menyebar, Universitas Oxford pun menyoroti peristiwa tersebut melalui unggahan resmi di akun Instagram mereka. Dalam keterangan yang mereka tulis, Rafflesia hasseltii digambarkan sebagai tanaman yang “lebih sering disaksikan harimau dibanding manusia.”

Oxford juga menekankan betapa beratnya perjalanan tim yang harus berjalan siang dan malam menembus hutan hujan Sumatra demi menemukan sang bunga langka yang hanya sedikit orang di dunia pernah melihatnya mekar, dan luar biasanya, kali ini terjadi pada malam hari.

Kisah Septian Andriki: Penantian Panjang dari Seorang Pemandu Lokal

Septian Andriki, sang pemandu dari Bengkulu, membagikan ungkapan syukur dan emosinya melalui akun Instagram @bujangpalala44. Ia menganggap dirinya sangat beruntung bisa melihat langsung Rafflesia hasseltii mekar di habitat alaminya, sebuah pengalaman yang ia raih setelah menunggu dengan penuh kesabaran selama bertahun-tahun.

Septian juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada Dr. Chris Thorogood atas kepercayaannya melibatkan dirinya dalam ekspedisi ini, yang baginya menjadi pengalaman tak ternilai sekaligus penghargaan terhadap kontribusi lokal dalam riset konservasi.

Baca Juga: Lowongan Kerja Junior Customer Care Manager di L’Oreal untuk Mengelola Hubungan dengan Klien dan Distributor

Tentang Rafflesia hasseltii: Cendawan Muka Rimau yang Kian Terancam

Rafflesia hasseltii, menurut data Plantamor, merupakan bunga parasit dari keluarga Rafflesiaceae yang tersebar di Sumatera Barat, bagian tengah Sumatra lainnya, dan sebagian Kalimantan Barat. Masyarakat mengenalnya sebagai “Cendawan Muka Rimau” karena kelopaknya bermotif seperti wajah harimau.

Spesies ini pertama kali dideskripsikan oleh Willem Frederik Reinier Suringar pada 1879. Ia hidup sebagai holoparasit pada tanaman inang Tetrastigma leucostaphyllum. Ketika mekar, diameternya dapat mencapai 30–50 cm, menurut laporan World Wide Fund for Nature (WWF). Namun, masa mekarnya sangat singkat—hanya beberapa hari sebelum layu kembali, sehingga momen melihatnya mekar menjadi sangat berharga.

Habitatnya pun terbatas dan sulit diakses, mulai dari Bukit Tigapuluh (Riau–Jambi), Taman Nasional Kerinci Seblat, hingga titik-titik terpencil di Sumatra Barat. Banyak lokasi tumbuhnya berada jauh dari jalur umum dan hanya bisa dikunjungi dengan izin khusus.

Baca Juga: Tetapkan Anggaran Belanja untuk Liburan Natal dan Tahun Baru biar Nggak Boncos Menjelang Akhir Tahun

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X