PejuangKantoran.com - Kasus tumbler hilang di KRL sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial. Utas yang diunggah Anita Dewi di Threads, diawali dengan kalimat “Tumbler tuku-ku gone atas ketidaktanggung jawab petugas PT KAI @commuterline”, membuat warganet langsung sadar bahwa tumbler yang hilang itu merupakan koleksi Kopi Tuku.
Namun hingga Anita meminta maaf, sama sekali tidak ada komentar dari Kopi Tuku. Warganet dibikin penasaran, kalau Tuku nimbrung di kasus ini, kita-kita akan bereaksi seperti apa?
Apakah akan mempromosikan koleksi tumbler-nya untuk warganet yang ingin donasi ke Anita? Atau menawarkan pekerjaan pada Argi, petugas passenger service KAI yang kabarnya dipecat gara-gara kasusnya viral?
Baca Juga: Selain Kopi Tuku, Ini 6 Tumbler Keluaran Kedai Kopi di Indonesia dengan Harga Menengah
Tetapi ketika kasus tersebut lagi ramai-ramainya akhir November lalu, Kopi Tuku tidak bereaksi. Instagram Story kedai kopi yang didirikan Andanu Prasetyo tahun 2015 itu justru menampilkan foto-foto bencana banjir bandang dan longsor di Sumatera.
Bagi warganet yang menganggap kasus tumbler hilang di KRL itu nggak penting, langkah Kopi Tuku untuk tidak bereaksi justru dianggap cerdas dan bijak. Warga LinkedIn ramai membahasnya ketika Jojo S. Nugroho, founder Imogen PR, melontarkan isu tersebut.
Krisis yang terjadi pada Anita dan Argi bukanlah krisis Kopi Tuku. Tuku tidak tergoda untuk memanfaatkan momen dan menjadikannya bahan marketing campaign.
Jika dilihat dari sisi marketing, keputusan ini justru cukup strategis. Berbagai diskusi di LinkedIn juga menimbulkan berbagai istilah marketing yang menarik untuk dikulik. Mau tahu?
1. Kopi Tuku tidak memanfaatkan momen secara oportunistik (riding the wave)
Dalam konteks bisnis, riding the wave berarti memanfaatkan tren atau peristiwa yang sedang viral untuk mendorong pertumbuhan bisnis. Riding the wave kadang memang efektif, tapi tidak semua "gelombang" cocok ditunggangi.
Baca Juga: Agar Tak Terulang Kasus Tumbler Ini 10 Cara Menghindari Terlibat Dalam Cancel Culture
Kasus tumbler hilang di KRL ini dianggap tidak memberikan value jangka panjang bagi brand. Kalau Kopi Tuku memanfaatkan momen ini, terkesan mereka memanfaatkan masalah pelanggan untuk eksposur. Itu tidak sejalan dengan karakter brand mereka yang humble dan apa adanya.
2. Tidak terjebak emotional marketing yang tidak perlu
Emotional marketing adalah pendekatan komunikasi yang digunakan perusahaan untuk memicu emosi tertentu pada konsumen, entah itu senang, marah, sedih, hingga empati.
Biasanya, brand mengaitkan pesan mereka dengan isu viral atau situasi yang mudah kita relasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuannya sederhana: untuk meningkatkan engagement antara brand dan konsumennya.
Artikel Terkait
Dikecam Warganet usai Sebut Bencana Hanya Mencekam di Medsos, Kepala BNPB Minta Maaf
Lowongan Data Center Physical Security Manager di PT Nityo Infotech, Memastikan Keamanan Data Center
Bijaklah dalam Bermedia Sosial Agar Tak Menjebak Kamu Menjadi Judgemental! Ini Penjelasannya!
Film Indonesia yang Tayang Desember 2025 Jadi Amunisi Kejar Angka 80 Juta Penonton Film Nasional!
9 Keterampilan Sebagai Host Live-Streaming yang Harus Kamu Kuasai Agar Kompetitif!
Perusahaan Logistik Berstatus Unicorn, Lalamove, Membuka Lowongan Kerja Finance Associate
Google Photos Recap Kumpulkan Foto Terbaik Kamu sepanjang 2025, Plus Jumlah Foto Selfie Kamu!