Pejuangkantoran.com – Menjelang perayaan Natal, salah satu yang mudah dikenali adalah banyak dekorasi pohon natal di berbagai tempat, baik di ruang keluarga umat Kristiani yang merayakan Natal atau tempat-tempat umum seperti mal di seluruh penjuru dunia.
Aneka macam bentuk, ukuran, dan hiasan pohon natal membuat festive ini menjadi meriah. Pohon Natal yang kita kenal secara saat ini adalah pohon pinus atau cemara.
Hal ini tak lepas dari sejarah pohon Natal ini sebelum dijadikan sebagai tradisi perayaan agama Kristen.
Jauh sebelum Natal dirayakan oleh umat Kristiani, masyarakat Eropa kuno, terutama bangsa Jermanik, Kelt, dan Nordik, memiliki tradisi menggunakan pohon hijau abadi (evergreen) saat titik balik matahari musim dingin (winter solstice).
Tradisi ini bersifat simbolik, bukan religius Kristen. Penggunaan pohon ini punya makna, yaitu:
- Evergreen melambangkan kehidupan, harapan, dan ketahanan di tengah musim dingin yang gelap dan keras.
- Bangsa Romawi, misalnya, menghias rumah dengan dedaunan hijau saat festival Saturnalia.
- Di wilayah Skandinavia, pohon cemara dianggap simbol kekuatan hidup yang tidak mati.
Baca Juga: Christmas Carol Colossal Vol. 2 Siap Meriahkan Natal Warga Jakarta di FX Sudirman
Ketika Kristen menyebar ke Eropa Utara di abad ke-8 hingga abad ke-12, gereja menghadapi tradisi lokal yang kuat ini. Alih-alih menghapusnya, simbol-simbol pra-Kristen ini kemudian didapatasi dan diberi makna baru dalam kerangka teologi Kristen.
Salah satunya adalah Paradise Tree. Ini adalah pohon simbolik yang digunakan dalam drama liturgi Kristen abad pertengahan untuk merepresentasikan Pohon Pengetahuan tentang yang Baik dan yang Jahat di Taman Eden (kisah Adam dan Hawa dalam Kitab Kejadian).
Pohon Natal Modern
Bentuk pohon Natal yang kita kenal seperti sekarang baru muncul pada abad ke-16 di Jerman. Saat itu, pohon yang digunakan adalah pohon cemara atau pinus yang ditegakkan di dalam rumah.
Pohon ini kemudian dihiasi dengan apel, kacang, kue, dan lilin. Tradisi ini sangat kuat di kelangan Kristen Protestan Jerman.
Pohon Natal versi modern ini baru popular di Inggris pada abad ke-19, terutama setelah Pangeran Albert (suami Ratu Victoria, berdarah Jerman) memasang pohon ini di Istana Windsor.
Pohon ini dihiasi dengan aneka mainan dan hadiah kecil, lilin, permen, rangkaian popcorn, dan pita.
Publikasi ikustrasi keluarga kerjaan dengan pohon Natal pada tahun 1848 inilah yang membuat tradisi ini cepat menyebar ke kalangan kelas menengah di Inggris.
Artikel Terkait
Menjelang Liburan Akhir Tahun, Rencanakan Liburanmu. Berikut Ini Panduan Ukuran Koper yang Harus Kamu Bawa
10 Ide Ecotourism atau Ekowisata yang Bisa Kamu Pertimbangkan untuk Liburan Akhir Tahun
Nggak Ada Cuti Bersama Jelang Tahun Baru, ASN Diimbau untuk WFA pada 29-31 Desember 2025
Ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru untuk Rekan Kerja dalam 3 Bahasa, Sopan dan Profesional
Jadwal Misa Natal 2025 di Gereja-gereja Keuskupan Agung Jakarta (KAJ)
Panduan Pilihan Menginap di Homestay, Villa, atau Hotel untuk Liburan Natal dan Akhir Tahun Ini