Mengenal 4 Penanggalan: China, Jawa, Hijriah, dan Masehi dari Berbagai Aspek

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Selasa, 17 Februari 2026 | 12:30 WIB
Tahun Baru Imlek kali ini shio-nya Kuda Api. Kenali 4 penanggalan yang ada di Indonesia. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Tahun Baru Imlek kali ini shio-nya Kuda Api. Kenali 4 penanggalan yang ada di Indonesia. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.com – Tahun ini adalah Tahun Baru China (Imlek) 2577 Kong Zi Li, dan jatuh pada 17 Februari 2026. Shio tahun baru China kali ini adalah kuda api.

Di dunia (khususnya di Indonesia) saat Ini penanggalan yang dikenal dan sering dipakai adalah penanggalan Masehi, penanggalan Hijriah, penanggalan China, dan penanggalan Jawa.

Berikut perbedaan penanggalan China, penanggalan Jawa, penanggalan Islam, dan penanggalan Masehi dilihat dari aspek kalender, dasar astronomi, sejarah, budaya, dan makna sosial-religiusnya.

1) Penanggalan China

Nama tahun baru: Tahun Baru Imlek
Kalender: Kalender Tionghoa (luni-solar)
Dasar astronomi: Kombinasi siklus bulan (29–30 hari) dan penyesuaian musim matahari.
Penentuan tanggal: Antara 21 Januari – 20 Februari (bulan baru kedua setelah titik balik matahari musim dingin).
Siklus: 12 shio dikalikan 5 elemen (60 tahun siklus penuh).
Asal-usul: Tradisi Tiongkok kuno, terkait agraria dan mitologi (misalnya legenda Nian).
Sifat: Budaya dan kepercayaan (Konfusianisme, Taoisme, Buddhisme), bukan murni agama.
Perayaan khas: Angpao, barongsai, reuni keluarga, sembahyang leluhur.
Fungsi sosial: Penanda awal musim semi dan siklus zodiak baru.

Karakter utama: Kalender luni-solar, sangat terkait sistem zodiak dan musim.

Baca Juga: Tahun Baru Imlek Menandai Tahun Kuda Api, Saatnya Menjemput Peluang dengan Penuh Energi

2) Penanggalan Jawa

Nama tahun baru: 1 Suro
Kalender: Kalender Jawa (hasil sinkretisme Hindu–Islam–Jawa)
Dasar astronomi: Luni-solar (dipengaruhi kalender Hijriah)
Penetapan sistem: Ditetapkan oleh Sultan Agung pada 1633 M.
Penentuan tanggal: Bertepatan dengan 1 Muharram kalender Hijriah, tetapi tahunnya berbeda hitungan.
Siklus: 8 tahun (windu), juga mengenal pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon).
Sifat: Kultural-spiritual Jawa
Perayaan khas: Tirakatan, tapa bisu, jamasan pusaka (misalnya di Keraton Yogyakarta).
Fungsi sosial: Momentum refleksi batin, laku spiritual.

Karakter utama: Kalender sinkretik, kuat pada unsur spiritualitas Jawa.

Baca Juga: Hujan Jadi Simbol Keberuntungan, Tetapi Hujan Saat Imlek Hanya Terjadi di Indonesia

3) Penanggalan Islam

Nama resmi: Tahun Baru Islam (1 Muhamaram)
Kalender: Hijriah (lunar murni)
Dasar astronomi: Peredaran bulan (354/355 hari per tahun)
Penentuan awal: Berdasarkan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah (622 M).
Siklus: Tidak mengenal musim (bergeser kurang lebih 11 hari lebih cepat tiap tahun Masehi)
Sifat: Religius (Islam)
Perayaan khas: Muhasabah, doa akhir/awal tahun, pawai obor (di beberapa daerah).
Fungsi sosial: Momentum spiritual, bukan pesta besar.

Karakter utama: Kalender lunar murni, tidak disesuaikan dengan musim.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X