PejuangKantoran.com - Senin (30/3/2026) lalu, Government Gazette mengumumkan bahwa Cotton On Asia ditempatkan di bawah likuidasi sukarela anggota. Pengumuman tersebut disampaikan setelah rapat umum pemegang saham (RUPS) luar biasa melalui telekonferensi video pada 25 Maret.
Dalam pemberitahuan terpisah, para kreditur perusahaan juga diberitahu untuk menyerahkan rincian utang atau klaim yang belum dibayar.
Hal tersebut memicu rumor bahwa Cotton On akan menutup toko-tokonya di Asia. Namun, toko ritel fashion asal Australia itu segera membantah kabar tentang penutupan salah satu entitasnya tersebut.
Baca Juga: Finlandia Kembali Jadi Negara Paling Bahagia di Dunia 2026, Ini Rahasia Sederhana di Baliknya
“Ada laporan media yang menyesatkan, yang menyatakan bahwa toko-toko Cotton On yang beroperasi di Asia akan ditutup. Informasi ini tidak benar dan kami tidak memiliki rencana untuk keluar dari wilayah Asia,” demikian pernyataan resmi Cotton On Group yang dirilis pada Selasa (31/3/2026).
“Cotton On Asia Pte Ltd, entitas yang dilikuidasi, tidak dan belum pernah mengoperasikan toko atau mempekerjakan anggota tim,” tambah juru bicara tersebut.
Juru bicara perusahaan juga menjelaskan bahwa Cotton On Asia adalah perusahaan holding yang tidak aktif. Perusahaan ini tidak mengoperasikan toko maupun mempekerjakan staf, dan tidak lagi dibutuhkan.
“Ini tidak berdampak pada pelanggan, tim, toko, pemasok, atau operasi di wilayah Asia,” tukasnya, mengenai entitas yang sudah lebih dari satu dekade setelah memasuki pasar itu.
Cotton On Indonesia
Baca Juga: Usai Lebaran, Saatnya Kembali ke Ritme: Cara Cerdas Lawan Post-Holiday Blues
Cotton On Asia adalah bagian dari toko ritel fashion dan gaya hidup Australia, Cotton On Group. Merek yang didirikan oleh Nigel Austin pada tahun 1991 ini membuka toko pertamanya di Singapura di Wisma Atria pada tahun 2007. Lebih dari 90 staf dipekerjakan di kantor pusat Asia-nya sejak tahun 2014.
Merek-merek di bawah naungan Cotton On yang tersedia di Singapura adalah Cotton On, Cotton On Body, Cotton On Kids, merek alat tulis Typo, dan merek sepatu Rubi. Merek lain dalam grup ini termasuk Factorie, Supre, dan Ceres Life.
Merek andalan dan terbesar dari peritel fast-fashion ini bersaing dengan merek-merek seperti H&M, Zara, dan Forever 21 dengan busana-busana trendi untuk pria, wanita, dan anak-anak. Target demografisnya adalah usia 18 hingga 45 tahun, dengan usia ideal sekitar 22 tahun.
Artikel Terkait
Bahasa Indonesia Jadi Bahasa Pertama di Asia Tenggara yang Jadi Bahasa Resmi di Vatikan News
Kesempatan Terlibat di Festival Budaya Indonesia–Jepang, Connext Japan Djakarta Ennichi 2026 Dibuka untuk Volunteer
Baim Wong Selipkan Sebagian Pengalaman Pribadinya di Film Terbarunya, 'Semua Akan Baik Baik Saja'
9 Tanggung Jawab Seorang Editor Video. Pantasnya Dihargai Berapa Rupiah?
Menangis di Kantor Sering Dianggap Cemen dan Tidak Profesional, atau Itu Bentuk yang Wajar?
Inilah Rata-rata Gaji Video Editor dari Entry Level Hingga Expert, Tingkat Nasional dan Global
Cara Merespons Jika Ada Rekan Kerja yang Menangis di Kantor, tapi Pahami Juga Batasan Kamu!