Bukan Sekadar Drama Kantor: Hubungan Toksik dengan Atasan Bisa Berdampak pada Kesehatan dan Umur

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Selasa, 31 Maret 2026 | 12:15 WIB
Kalimat-kalimat dari bos yang tidak menyenangkan seringkali menimbulkan lingkungan kerja yang tidak sehat. (Freepik)
Kalimat-kalimat dari bos yang tidak menyenangkan seringkali menimbulkan lingkungan kerja yang tidak sehat. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Isu hubungan tidak sehat di tempat kerja kini tak lagi bisa dianggap remeh. Berbagai riset global menunjukkan bahwa tekanan dari atasan yang toksik bukan sekadar persoalan profesional, tetapi juga berkaitan langsung dengan kesehatan fisik dan mental dalam jangka panjang.

Sejumlah temuan dari institusi seperti Stanford University dan University College London menggarisbawahi bahwa stres kronis akibat kepemimpinan yang buruk dapat berdampak serius pada tubuh.

Salah satu dampak yang paling disorot adalah peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, serta percepatan penuaan biologis akibat produksi hormon stres seperti kortisol yang berlebihan.

Stres Kerja dan Risiko Kesehatan

Penelitian yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) menunjukkan bahwa tekanan psikologis yang berlangsung terus-menerus dapat memengaruhi sistem tubuh secara menyeluruh, termasuk fungsi jantung dan sistem imun. Dalam konteks pekerjaan, hubungan yang tidak sehat dengan atasan menjadi salah satu pemicu utama stres kronis tersebut.

Baca Juga: Baim Wong Selipkan Sebagian Pengalaman Pribadinya di Film Terbarunya, 'Semua Akan Baik Baik Saja'

Lebih jauh, laporan dari McKinsey & Company juga menyoroti bahwa kualitas kepemimpinan memiliki korelasi kuat dengan kesejahteraan karyawan. Lingkungan kerja yang penuh tekanan, minim dukungan, dan tidak sehat secara emosional berkontribusi terhadap penurunan produktivitas hingga meningkatnya risiko burnout.

Pengaruh Atasan Setara dengan Pasangan Hidup

Salah satu temuan yang paling menarik adalah bahwa pengaruh seorang manajer terhadap kesehatan mental karyawan bisa setara dengan pengaruh pasangan hidup. Artinya, hubungan profesional di kantor memiliki dampak emosional yang sangat dalam—bahkan bisa memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan.

Kondisi ini membuat para ahli mulai menyebut fenomena tersebut sebagai “pandemi mental tersembunyi”. Dampaknya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga berimbas pada kesehatan masyarakat secara luas, termasuk meningkatnya angka gangguan mental dan potensi kematian dini akibat stres berkepanjangan.

Baca Juga: Meeting Itu Bukan Pekerjaan, Kata CEO Southwest Airlines yang Hanya Mau Rapat 2 Hari dalam Seminggu

Temuan-temuan ini menjadi pengingat bahwa kesejahteraan psikologis di tempat kerja bukan lagi sekadar fasilitas tambahan atau tren perusahaan modern. Sebaliknya, ini adalah kebutuhan mendasar yang berkaitan langsung dengan kesehatan jangka panjang.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X