PejuangKantoran.com - Selama ini Jepang diketahui sebagai salah satu negara yang kekurangan tenaga kerja, akibat populasi yang menua tetapi angka kelahirannya rendah.
Namun sikap terbuka negara ini terhadap kedatangan tenaga kerja asing mulai dibatasi. Akibatnya, penerimaan permohonan visa untuk pekerja restoran asing di bawah program specified skilled workers (SSW, atau pekerja terampil khusus) dihentikan pada hari Senin (13/4/2026).
Ternyata, jumlah pekerja asing yang diizinkan untuk bekerja di sektor restoran hampir mencapai kapasitas. Hingga akhir Februari, sudah ada sekitar 46.000 pekerja terampil khusus asing di industri jasa makanan, menurut Immigration Service Agency (Badan Layanan Imigrasi).
Baca Juga: Kopi Kenangan Buka Gerai Pertamanya di Taiwan, Datangkan Kopi Langsung dari Sumatera dan Bali
Pihak berwenang memperkirakan kalau jumlah kuota 50.000 orang, yang sebenarnya dialokasikan untuk sektor restoran selama periode lima tahun sejak April 2024, bakal habis di bulan Mei 2026 nanti.
Itu sebabnya mereka mengumumkan bahwa penerimaan permohonan visa yang baru sudah dihentikan pada 27 Maret. Visa tidak akan dikeluarkan untuk permohonan yang diterima setelah hari Senin (13/4/2026).
Buat yang sudah mendaftar sebelum batas waktu tersebut, sertifikat akan diproses sesuai urutan antrean selama kuotanya masih ada. Tapi siap-siap saja ya, prosesnya kemungkinan besar bakal jauh lebih lama daripada biasanya.
Pembekuan mendadak ini telah membuat banyak pekerja asing, serta restoran yang ingin mempekerjakan, menjadi panik.
Menurut juru bicara Skylark Holdings (perusahaan raksasa di balik jaringan restoran populer seperti Gusto), ada 32 mahasiswa asing yang bekerja part-time di sana dan sudah berencana ikut ujian program pekerja terampil khusus pada bulan Juni.
Rencananya, mereka ingin pindah jadi karyawan tetap supaya bisa terus tinggal dan berkarier di Jepang setelah lulus kuliah. Sayangnya, rencana tinggal rencana.
Baca Juga: Terinspirasi Sejak Syuting Filmnya, Maudy Ayunda Sumbang Lagu Karyanya untuk OST 'Para Perasuk'
Berharap kuota dinaikkan
Bukan cuma soal ujian, Skylark sebenarnya juga rajin memberikan pelatihan dan dukungan buat semua karyawan asingnya agar bisa mengurus visa lain dan menata masa depan di Jepang.
Namun, juru bicara tersebut menambahkan bahwa semua program dukungan itu harus dihentikan untuk sementara waktu. Saat ini, Skylark sendiri punya sekitar 270 karyawan yang bekerja lewat program SSW tersebut.
Pihak Skylark menyebut kalau banyak pekerja asing mereka yang sekarang merasa cemas. Sebagai perusahaan yang selama ini bekerja erat dengan tenaga kerja asing dan sangat peduli pada perkembangan karier mereka, Skylark berharap pemerintah Jepang mau menaikkan kuota (batasan) pekerja untuk sektor restoran.
Artikel Terkait
Sering Disebut Baik untuk Kesehatan Jantung, Betulkah Jalan Kaki Bisa Membangun Otot?
Tenaga Kerja Kontrak Sebaiknya Menjalani Roadmap Finansial yang Dirancang untuk Waktu 1 - 3 Tahun Ini
10 Dampak Buruk bagi Perusahaan Ketika Tingkat Turnover Tinggi
Main Jadi Suami KDRT di Film 'Suamiku, Lukaku', Baim Wong Sempat Bikin Acha Septriasa Shock
Cara Menghapus Cache di Smartphone Android, biar Memori Nggak Penuh dan Bisa Save Data Lagi
8 Early Warning Signal pada Karyawan yang Bisa Menjadi Indikator Akan Adanya Turnover yang Wajib DIketahui HR
Belajar dari Dugaan Kasus Pelecehan Seksual oleh 16 Mahasiswa FH UI, Kita Wajib Tahu Definisi dan Kategori Pelecehan Seksual