10 Dampak Buruk bagi Perusahaan Ketika Tingkat Turnover Tinggi

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Senin, 13 April 2026 | 15:10 WIB
Jangan sepelkan turnover yang tinggi, dampaknya buruk bagi perusahaan. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Jangan sepelkan turnover yang tinggi, dampaknya buruk bagi perusahaan. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.com – Pernah mendengar kalimat seperti ini “Jangan bekerja di Perusahaan yang turnover-nya tinggi!”? Umumnya ini kamu dengar ketika sedang mencari pekerjaan atau sedang berencana pindah kerja.

Turnover adalah tingkat keluar-masuknya karyawan dalam suatu organisasi dalam periode tertentu (biasanya per tahun). Dan sebenarnya tingkat turnover itu sangat penting dalam sebuah Perusahaan.

Ketika tingkat turnover tinggi, dampaknya sistemik, bukan hanya biaya rekrutmen, tetapi juga menggerus kinerja organisasi secara menyeluruh.

Turnover sendiri ada empat jenis, yaitu:

  1. Voluntary turnover: Karyawan keluar atas kemauan sendiri (resign).
  2. Involuntary turnover: Perusahaan yang mengakhiri hubungan kerja (PHK, kontrak habis).
  3. Regrettable turnover: Karyawan berkinerja baik ikut keluar (ini yang paling merugikan bagi Perusahaan).
  4. Non-regrettable turnover: Karyawan performa rendah keluar (bisa dianggap organisasi Perusahaan yang “sehat”).

Sebagai seorang di departemen Human Resource atau Sumberdaya Manusia atau level manajerial, kamu perlu memahami dampak buruk bagi perusahaan ketika turnover tinggi.

Baca Juga: Waspada, Turnover Karyawan Bisa Diprediksi dari Tanda-tanda Awal Seperti Ini

Berikut ini penjelasannya:

  1. Biaya Finansial Langsung (Hard Cost)

Ini adalah hard cost, komponen biaya yang sering underestimated dan langsung terpengaruh ketika turnover tinggi, yaitu effort untuk rekrutmen baru (iklan, agency, waktu HR). Lalu ketika karyawan baru masuk, maka ada biaya onboarding dan training bagi mereka.

Karyawan baru, apalagi fresh graduate, biasanya tidak langsung “gas pol” produktif. Namun di masa ini mereka tetap digaji karena sudah tercatat sebagai karyawan.

Dan yang kerap jadi beban keuangan yang langsung tercatat adalah biaya exit ketika ada yang keluar. Ini bisa dalam bentuk pesangon atau biaya administrasi lainnya.

Estimasi umum biaya langsung ini kurang lebih seperti ini:

  • Level staf: 30–50% dari gaji tahunan.
  • Level manajerial: bisa di atas 100%.
  1. Penurunan Produktivitas

Memang tidak ada uang keluar, namun ini justru menjadi hidden cost terbesar, sebab saat ada posisi kosong, maka akan ada potensi pekerjaan yang terbengkalai atau dibebankan ke tim lain. Di sisi lain, karyawan baru butuh waktu adaptasi (ramp-up period), sehingga output kerja tidak langsung optimal.

Efeknya, bisa terjadi delay proyek atau penurunan kualitas kerja.

  1. Hilangnya Knowledge dan Experience

Ketika ada karyawan yang keluar, apalagi jika termasuk regrettable turnover (karyawan dengan kinerja baik yang keluar), maka Perusahaan otomatis akan kehilangan tacit knowledge (pengalaman, relasi, insight operasional). Ini karena tidak semua tacit knowledge ini bisa didokumentasikan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Berbagai Sumber

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X