1 dari 5 Karyawan Ternyata Overqualified, tapi Dilakukan Sukarela karena Berbagai Alasan

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 16 April 2026 | 13:05 WIB
Ilustrasi: Banyak pekerja di negara berpenghasilan tinggi saat ini berstatus overqualified karena rela menempati posisi yang lebih rendah daripada skill-nya. (Freepik)
Ilustrasi: Banyak pekerja di negara berpenghasilan tinggi saat ini berstatus overqualified karena rela menempati posisi yang lebih rendah daripada skill-nya. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Overqualification atau kondisi di mana seseorang memiliki kualifikasi pengalaman kerja ataupun pendidikan yang jauh melampaui tuntutan pekerjaannya, kini menjadi tren global di berbagai negara maju.

Meskipun kesannya seperti menyia-nyiakan potensi, kenyataannya fenomena ini sering kali didasari oleh pergeseran nilai dalam dunia kerja modern.

Berdasarkan studi terbaru dari Kementerian Tenaga Kerja (Ministry of Manpower/MOM) Singapura yang dirilis Selasa (14/4/2026) lalu, hampir satu dari lima karyawan di Singapura ternyata overqualified karena punya pendidikan yang terlalu tinggi untuk posisi mereka saat ini. Angka ini mencapai 19,4 persen dari total tenaga kerja lokal di tahun 2025.

Baca Juga: Starbucks Gunakan Percakapan ChatGPT untuk Membantu Konsumen Mendapat Rekomendasi Minuman

Meski angka itu terdengar cukup tinggi, Singapura sebenarnya masih lebih baik dibandingkan negara maju lainnya. Bahkan, Singapura ada di peringkat 19 dari 32 negara yang memiliki angka penghasilan tinggi.

Rata-rata tingkat overqualification di negara berpenghasilan tinggi seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Swiss justru lebih tinggi, yakni sekitar 21,6 persen. Padahal, 64 persen pekerja di Singapura memegang gelar pendidikan tinggi, jauh melampaui rata-rata negara maju lainnya yang hanya 41,2 persen.

Peringkat pertama dari daftar negara yang pekerjanya mengalami overqualification adalah Korea, yang angkanya jauh melebihi peringkat dua dan tiga, yaitu Spanyol dan Amerika Serikat.

Pilihan hidup di atas gelar akademik

Banyak yang berasumsi bahwa bekerja di posisi yang lebih rendah daripada tingkat pendidikan adalah tanda kegagalan pasar kerja. Namun, data dari MOM menunjukkan bahwa sebagian besar kasus ini sebenarnya bersifat sukarela.

Banyak pekerja yang secara sadar memilih peran tersebut karena alasan aspirasi pribadi, preferensi kerja, atau kondisi kehidupan tertentu.

Baca Juga: Mengapa Bertahan Terlalu Lama di Satu Pekerjaan Terkadang Bisa Bikin Kamu Susah Maju?

Faktor-faktor seperti stabilitas pekerjaan (31,1%), kesempatan untuk menggunakan skill yang spesifik (25,3%), minat pada jenis pekerjaan tertentu (24,45%), gaji yang melebihi ekspektasi (16,0%), hingga jadwal kerja yang fleksibel (14,3%) jadi alasan utama mengapa responden memilih pekerjaan dengan kriteria di bawah kemampuannya.

Hal ini menunjukkan bahwa kepuasan kerja saat ini tidak lagi hanya diukur dari kecocokan gelar, melainkan dari sejauh mana pekerjaan tersebut menunjang kualitas hidup mereka.

"Keterampilan dan pengetahuan yang didapat dari pendidikan tinggi harus terus diperbarui dengan keahlian dan pengalaman baru, termasuk yang didapatkan langsung di tempat kerja," demikian menurut MOM dan National Trades Union Congress (NTUC) dalam pernyataan bersama mereka yang menekankan pentingnya adaptasi.

Usia pekerja dan fleksibilitas

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Channel News Asia, Mom.gov.sg

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X