PejuangKantoran.com - Rencana Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) untuk mengevaluasi bahkan menutup program studi (prodi) yang dinilai tidak relevan dengan kebutuhan industri menuai kritik dari Perhimpunan Pendidikan dan Guru. Kebijakan ini dianggap terlalu terburu-buru dan belum menyentuh akar persoalan di dunia pendidikan tinggi.
Perwakilan P2G, Feriyansyah, menilai bahwa masalah utama bukan terletak pada banyaknya jumlah prodi, melainkan lemahnya sinkronisasi antara sistem pendidikan tinggi, distribusi mahasiswa, serta kesiapan ekosistem industri nasional. Menurutnya, penutupan prodi justru terlihat seperti solusi instan yang bersifat administratif, bukan solusi mendasar.
P2G juga mengkritik cara pandang yang menempatkan perguruan tinggi semata sebagai “pabrik” pencetak tenaga kerja. Padahal, fungsi pendidikan tinggi jauh lebih luas, termasuk membangun kemampuan berpikir kritis dan pengembangan ilmu pengetahuan. Bahkan, bidang pendidikan yang menjadi fondasi sistem nasional dengan jumlah mahasiswa besar tidak bisa serta-merta dianggap mengalami kelebihan pasokan.
Baca Juga: Mengenal Gantt Chart, Tools Manajemen Proyek Pakai Visualisasi: Sekali Lihat Bisa Tahu Progress-nya!
Menariknya, bidang teknik yang selama ini dianggap paling relevan dengan kebutuhan industri justru menunjukkan tingkat keterisian mahasiswa yang relatif lebih rendah dibandingkan bidang lain. Hal ini mengindikasikan bahwa persoalan tidak sesederhana soal relevansi jurusan, tetapi juga menyangkut kesiapan industri dan perencanaan tenaga kerja secara nasional.
Baca Juga: 'Ganteng Ganteng Genteng: Kontes Otot Paling Viral' Terinspirasi dari Lomba Binaraga di Majalengka
Situasi ini memperlihatkan bahwa isu pengangguran lulusan perguruan tinggi adalah masalah kompleks yang membutuhkan pendekatan lebih komprehensif. Alih-alih sekadar menutup prodi, diperlukan kolaborasi lintas sektor untuk memastikan pendidikan dan industri dapat berjalan selaras dalam jangka panjang.
Artikel Terkait
6 Maskapai Penerbangan dengan Hidangan Terbaik di Kelas Premium Economy Tahun 2026
Sad Banget, Tiap Dua Minggu ada Satu dari 7.000 Bahasa Aktif di Dunia yang Hilang!
Usulan Gerbong Perempuan di Tengah KRL Muncul Usai Tragedi Bekasi
Baru Sehari Kerja Setelah Cuti Melahirkan, 'Teteh' Jadi Korban Meninggal Dunia Kecelakaan KRL Bekasi
Hari Buruh, Saatnya Tidak Hanya Mencari Penghasilan Tapi Juga Melindunginya
Korban Kecelakaan Kereta Api Berhak atas Ganti Rugi, Ini Jumlah Santunan dari Jasa Raharja
Isetan, Department Store Jepang di Singapura, Tutup Gerainya setelah Beroperasi Selama 15 Tahun
167 BUMN Ditutup, Tapi Pemerintah 'Janji' Tak ada yang di PHK
Pengadilan Tiongkok Tegaskan Perusahaan Tidak Boleh Memecat Karyawan Hanya Karena AI Lebih Murah
Bos Nvidia Bilang, Biaya Operasional AI Lebih Mahal daripada Membayar Gaji Karyawan